Alumni asal Tegal Panen “Cuan” dari Budidaya Sayur Hidroponik

0
785

Tegal- Salah seorang alumni Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan sukses mengembangkan usahanya berbudidaya sayur dengan sistem hidroponik. Dia adalah M Firmansyah, santri asal Desa/Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Firman sapaan akrabnya menyampaikan, berkat perkembangan dan kesuksesan usahanya dia mampu menggandeng pemuda untuk menjadi petani milenial.

“Lumayan, Seperti komunitas sekarang. Kita saling sharing dan kontribusi tentang stok dan bisa berkolaborasi mempertahankan usaha. Kita tukar ide dan inovasi agar usaha berkembang dengan baik,” katanya, Ahad (21/08/2022).

Selanjutnya, lulusan MA Salafiyah Muadalah Tahun 2016 itu mengatakan usaha hidroponiknya maju setelah direpost di Instagram Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Menurutnya, usai di-repost Lapak Ganjar, banyak orang yang bertanya tentang usahanya melalui pesan di Instagram. Mulai dari cara bertani sampai cara berbudidaya hidroponik.

“Setelah di repost di Instagramnya pak Ganjar, Alhamdulilah banyak manfaatnya di usaha saya. Terutama di bidang edukasi pertanian. Mayoritas mereka para pemuda generasi milenial yang ingin menjadi petani,” jelasnya yang pernah menjadi santri Khidmah Ma’hadiyah itu.

Hebatnya, Firman kini sudah bisa melunasi hutang usahanya dan bisa mengembangkan usahanya. Usahanya juga mendapatkan banyak pesanan terutama untuk pembuatan jasa instalasi untuk pertanian hidroponik. Adapun untuk pemasaran, produknya juga berhasil menembus pasar modern seperti mall di Kota Tegal.

Tanaman sayur hidroponik milik M Firman

“Alhamdulillah, hasilnya sudah masuk ke supermarket, salah satunya di Rita Super Mall (Ritamall) Tegal dan agen-agen kebab. Dikarenakan sayur selada ataupun sayur lain konsumennya kebanyakan agen atau pengusaha kebab,” imbuhnya.

Tak lupa, dirinya mengucapkan terima kasih kepada para kiai, guru, dan rekan alumni yang telah membimbing dan mendukungnya sampai puncak kesuksesannya. Menurutnya, tanpa bimbingan guru dari pesantren dirinya bukan siapa-siapa. Dirinya juga berpesan kepada alumni pesantren untuk tetap optimis dalam berwirausaha.

“Disaat gagal jangan lupa untuk segera berdiri untuk mengevaluasi kesalahan yang menjadi sebab gagalnya usaha. Kalau sudah berhasil,ya tetep seperti padi dan jangan lupa disekeliling kita masih banyak orang yang membutuhkan kita,” terangnya.

Bahkan, kini dia sudah bisa menyisihkan hasilnya untuk menyantuni anak yatim. Dirinya pun memanfaatkan tempatnya menjadi kedai kopi, yang sekaligus menjadi tempat berbagi informasi tentang pertanian dengan para petani muda di sekitarnya.

Redaktur: Zaenal Faizin