Haul Alm Simbah KH. Dimyathi Diawali Dengan Semaan Al Qur’an

0
1513
Santri saat mengikuti semaan Al Qur’an
Santri saat mengikuti semaan Al Qur’an

Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan menggelar peringatan dzikro haul almaghfurlah KH. Muhammad Dimyathi, dan mendak kaping kalih Simbah Ny. Hj. Qibthiyyah Habib & Ibu Ny. Hj. Widad Habib Rabu malam (02/08/2023). Kegiatan diawali dengan semaan Al Qur’an bil Ghoib atau Khataman Al Qur’an dengan hafalan yang diikuti seluruh santri.

Pengasuh Pondok Tremas, KH. Fuad Habib Dimyathi berharap santri bisa meneladani kiprah Simbah Kyai Dimyathi. Tentunya, para santri harus bertindak dan berperilaku baik yang tidak menyalahi syariat.

“Kulo suwun (saya minta) kita semua ayo berahwaliah (berperilaku) dan aqwaliyah (bertutur kata) yang membuat beliau bangga terhadap putra-putri seperti kita. Kita juga berharap beliau bangga melihat wajah-wajah kalian para santri Tremas,” katanya.

Kyai Fuad menyampaikan bahwa Simbah Kyai Dimyathi itu dimakamkan di Maqbaroh Gunung Lembu yang letaknya sekitar 400 meter dari lingkungan pondok. Tetapi ayah Mbah Dimyathi itu dimakamkan di Ma’la, Mekah.

Romone (ayah) Mbah Dimyathi makamnya di makkah di Ma’la, yaitu mbah Abdullah. Termasuk putrane mbah Abdullah yang pertama yaitu Syekh Mahfudz itu juga dimakamkan di Makkah. Kalau Mbah Dimyathi bin Abdullah bin Abdul Mannan bin Dipomenggolo dimakamkan di maqbaroh Gunung Lembu. Yang antum setiap pagi, sore, bahkan malam kesana ziarah itu. Alhamdulillah sae, yang penting tidak meninggalkan kewajiban belajar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan banyak santri Simbah Kyai Dimyathi yang menjadi orang yang luar biasa. Pasalnya, mayoritas masyayikh se-Pulau Jawa adalah santri Simbah Dimyathi.SI

“Konon simbah meninggalnya sekitar tahun 1930 an. Hampir 99 persen santri beliau menjadi orang yang luar biasa. Dari Banyuwangi ada KH. Mukhtar Syafa’at (Pendiri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi), ada simbahnya KH As’ad Syamsul Arifin, kemudian Mbah Hamid Pasuruan, terus ada lagi muridnya yaitu pendiri gontor, ada lagi simbahnya KH. Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek, kalau di Jogja ada guru saya KH. Ali Maksum, ada lagi mbah KH. Muntaha al-Hafizh, Kalibeber, Wonosobo, dan banyak sekali. Bahkan rata” Masyayikh se jawa ini adalah Santri Mbah Dimyathi,” ujarnya.