Cerita Alumni Tremas Mudik ke Wonosobo Pakai Sepeda Kuno

0
1955
Fasfahis dan Ndowi saat sampai di tugu selamat datang Kabupaten Wonosobo
Fasfahis dan Ndowi saat sampai di tugu selamat datang Kabupaten Wonosobo

M.Fashfahish Shofhal Jamil (20) dan Abrori Ndowi, alumni Perguruan Islam Pondok (PIP) Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan melakukan aksi heroik pulang kampung dari pesantren dengan mengayuh sepeda ontel dari Pacitan ke Wonosobo. Fahis menceritakan, hobinya bersepeda sudah dijalani ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

“Sejak masa sekolah SD, saya sudah sangat hobi bersepeda, meskipun jalan raya di daerah Wonosobo itu banyak naik dan turun pegunungan,hehehe,” katanya kepada redaksi, Jumat (05/05/2023).

Ia melanjutkan, dirinya bersama dengan temannya termotivasi untuk mudik dari pesantren dengan bersepeda karena sering melihat KH Hammad Al-Alim Harist Dimyathi atau Gus Amak mengayuh sepeda ontel setiap pagi.

“Hari pertama saya nyantri di Pondok Tremas, saya melihat beliau (Gus Amak) sedang meng-goes sepeda ontel yang sangat klasik. Dan saya langsung mempunyai inisiatif untuk menabung uang supaya bisa membeli sepeda yang sama seperti sepeda ontel milik beliau sekaligus untuk sarana transportasi  perjalanan pulang dari Pondok Tremas menuju kota kelahiran (Wonosobo),” ujarnya.

Sepeda yang digunakan Fasfahis dan Ndowi mudik dari Tremas ke Wonosobo

Menurut Fahis, perjalanan dari Tremas hingga ke Wonosobo membutuhkan waktu selama 3 hari 3 malam. Selama di perjalanan, ada kerusakan sedikit di bagian pengereman roda sepeda ontel tetapi ia merasa selalu dilindungi oleh Allah SWT.

“Menempuh perjalanan selama 3 hari 3 malam, dimulai dari malam 5 Syawal 1444 H. Alhamdulillah perjalanan saya dikasih perlindungan sama Allah dengan keselamatan, kesehatan, kelancaran, meskipun ada kerusakan sedikit di bagian pengereman roda sepeda ontel,” jelasnya.

Fahis berharap, perjalanan yang ditempuh dari Pacitan sampai Wonosobo tersebut mendapatkan ridho dari Allah, kedua orang tua, dan ridho dari para masyayikh, sehingga bisa menjadikan bertambahnya semangat dalam belajar, mencari ilmu di pondok pesantren. Ia menyampaikan, setiap tindakan yang dilakukan akan memberikan kesan tersendiri dan juga bermanfaat di masa mendatang.

“Jangan takut untuk selalu mencoba hal yang baru dalam hidupmu selagi masih dalam kebenaran. Tetap semangat dan jangan putus asa. Ini akan menambah pengalaman dalam hal solidaritas sesama manusia. Juga bisa merasakan perjuangan perjalanan orang yang telah mendahului kita sebelum adanya kendaraan bermesin yang melewati pahit manisnya dalam perjalanan,” tegasnya.