Ketua IAPT Pacitan: Pendidikan Pesantren Mirip dengan Pendidikan TNI

0
1066
KH. Mustaqim Mawardi, Ketua IAPT Pacitan
KH. Mustaqim Mawardi, Ketua IAPT Pacitan

Perkumpulan santri Perguruan Islam Pondok Tremas yang tergabung dalam Forum Santri Al Tarmasi Timur Kota (Formatik) menggelar pengajian akbar dalam Halal bihalal bersama alumni, wali santri, dan masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo di lapangan desa setempat pada Rabu (03/05/2022).

Dalam sambutannya, Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Tremas (IAPT) Kabupaten Pacitan KH. Mustaqim Mawardi menyampaikan bahwa di pesantren pendidikan dan gemblengan itu memiliki kemiripan dengan pendidikan yang ada di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pasalnya, di pesantren anak lulusan Sekolah Dasar (SD) yang berusia kisaran 13 tahun sudah diantar oleh orang tuanya ke pesantren dan belajar secara mandiri.

“Kalau di TNI itu pendidikan fisik dan mental, tapi kalau di pondok itu mental dan akhlak. Pendidikan fisiknya sedikit-sedikit juga ada.” katanya.

Dirinya mengatakan, dengan pendidikan yang ada di pesantren maka kelak anak akan mengetahui apa manfaat yang telah diperoleh selama di pondok pesantren. Karena di pondok pesantren menggunakan sistem asrama yang mengajarkan santri untuk mandiri, memiliki jiwa sosial, kepemimpinan, dan komunikasi yang baik.

“Anak-anak 13 tahun masuk asrama (pesantren) begitu ditinggal besok sendiri sudah mulai mandi sendiri, mencuci sendiri, sarapan sendiri, makan sendiri bahkan juga sambil menangis karena baru hari pertama ditinggal oleh orang tuanya. Karena 13 tahun harus berpisah dengan orang tuanya dan ditinggal selama berbulan-bulan,” jelasnya.

uasana pengajian akbar dalam Halal bihalal bersama alumni, wali santri, dan masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo
Suasana pengajian akbar dalam Halal bihalal santri Formatik bersama alumni, wali santri, dan masyarakat Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa orang tua tidak perlu mengkhawatirkan anaknya jika berada di pesantren. Menurutnya, sekarang sudah zaman modern jika anak kehabisan uang cukup dikirimi melalui ATM dan tidak perlu harus dijenguk ke pesantren.

“Jadi kalau kehabisan uang cukup gesek ATM sudah cair, maka orang tua tidak perlu menjenguk. Karena kalau masih kecil sering disambangi ini juga akan berdampak kurang kerasan (betah). Dan sekarang malah anak kecil sudah merasa nikmatnya di pondok karena sudah bertemu banyak teman dari berbagai daerah,” tandasnya.