Pesantren; Ragam Pendidikan yang Dipandang Sebelah Mata

0
517

Jakarta : PELUNCURAN “Gerakan Nasional Ayo Mondok” merupakan aksi solutif di tengah polemik sistem pendidikan Indonesia. Acara tersebut digelar pada hari Senin 01 Juni 2015 di kantor Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU). Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU menegaskan bahwa gerakan ini adalah sebagai bentuk pengembalian kepada nilai-nilai akhlaq dan pendalaman ilmu agama. Pesantren mampu membentuk manusia moderat yang mampu berfikir tentang apapun, baik aspek agama, sosial, kultur dan budaya.

Pendidikan pesantren memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan pada umumnya. Setidaknya ada dua hal yang membedakannya. Pertama, tujuan mondoktidak semata-mata agar mahir dalam aspek kognitif saja, melainkan agar mendapat ilmu yang berkah. Keberkahan inilah yang menjadi ciri utama etos keilmuan pesantren. Artinya, mencari ilmu semata-mata mengharap ridha Allah SWT, orientasinya adalah pengembangan kualitas spiritual diri.

Mahir dalam keilmuan memang sangat dihargai, tetapi akan sia-sia jika niat dan motivasinya duniawi semata. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan sekolah-sekolah pada umumnya yang berorientasi untuk memperolehpekerjaanyang layak dan mapan. Penekanan dimensi olah batin merupakan aspek krusial saat mengaji. Kuatnya praktik tasawwuf mewarnai sistem etika pesantren.

Hal kedua yang membedakan sistem pesantren dengan sekolah pada umumnya adalah otentisitas keilmuan. Yakni, dalam mengkaji suatu bidang keilmuan harus nyambung sanadnya. Seorang pengajar di pesantren dituntut untuk memiliki silsilah guru-guru yang mengajarinya hingga runtut sampai ke pengarang kitab yang hendak dikaji. Dengan metode seperti ini, para santri memperoleh “ijazah” secara langsung dari sang pengarang kitab.

Berbeda dengan fenomena pendidikan formal yang cenderung praktis dan normatif. Yakni terlalu menekankan kepada penilaian secara prosedural dan baku, sehingga tak jarang melahirkan peserta didik yang tuna etika dan lebih percaya untuk berguru kepada mbah google.

Penekanan olah batin dan akhlaq tidak lantas mengesampingkan aspek kognitif. Ada tradisi Musyawarahatau Bahtsul Masaail, yakni forum diskusi yang melatih para santri untuk riset kepustakaan, Menelusuri kitab-kitab kuning tanpa harakat (gundul). Diskusinya membahas hal-hal aktual dalam perspektif fiqih. Terkadang, meskipun merujuk pada kitab yang sama tetapi menghasilkan pandangan yang berbeda, apalagi jika rujukannya berbeda. Ini lazim terjadi karena berbicara fiqih tentu membicarakan keragaman hukum yang disebabkan oleh sosio-historis yang beragam.

Tujuan “Gerakan Nasional Ayo Mondok” ingin menegaskan bahwa sebenarnya dengan pendidikan pesantren, Indonesia memiliki suatu sistem pendidikan yang mapan, hanya saja seolah-olah dipandang sebelah mata dan ketinggalan zaman. Padahal jika kita telusuri lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan kekayaan metodologi dalam mengkaji suatu bidang keilmuan. (rminu.or.id)

Komentar Anda