Ikuti Dawuh Guru, Santri Tremas Mantap jadi Banser

0
423

Tremas- Usia Gerakan Pemuda (GP) Ansor telah mencapai 88 tahun. Hampir seluruh pegiat Ansor menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama tersebut.

Bagi Hadi Supriyanto, Kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, memberikan motivasi semangat berkhidmah dan berorganisai. Menurutnya, iklhas dan komitmen merupakan kunci untuk meraih kesuksesan kader.

“Ketika kita sudah ikhlas dan berkomitmen masuk di suatu organisasi, maka apapun rintangannya akan kita hadapi. Disaat kita teringat dengan baiat kita, maka akan tumbuh ghirah kembali untuk berkhidmah kepada NU dan NKRI,” katanya, Ahad (24/04/2022) malam.

Alumni MA Salafiyah Mu’adalah tahun 2017 itu mengungkapkan, dirinya sudah mengenal Ansor dan Banser sejak kecil. Ia mulai berkhidmah pada tahun 2018 dengan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) di Kecamatan Tegalombo, Pacitan.

“Setelah saya lulus dari Pondok Tremas tahun 2017. Kemudian saya mulai ada keinginan masuk Ansor dan Banser dengan adanya dukungan dari para guru dan masyayikh yang memantapkan saya dalam berkhidmah,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, pada tahun 2020 lalu dia mengikuti kegiatan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) di Kediri dan dilanjutkan Suspelat I di Madiun pada tahun 2021 kemarin.

Dirinya merasa tertarik mengikuti Ansor dan Banser sejak menjadi santri di Pondok Tremas. Suatu saat dia dipanggil salah satu gurunya yang juga merupakan Dewan Pembina Ansor Kabupaten Pacitan, Gus Mu’adz Harist Dimyathi untuk mengikuti pengkaderan Banser.

“Ini sudah perintah dari guru saya, apapun perintahnya akan saya lakukan,” jelas santri asal Pekalongan tersebut.

Lanjut, dia merasa salut bahwa Ansor dan Banser merupakan organisasi yang berkhidmah dan mengabdikan diri di masyarakat dan bangsa secara penuh. Dirinya berharap agar pemuda yang ingin berkhidmah dan berorganisasi yang mengedepankan kemanfaatan untuk orang lain dan jelas sanad keilmuannya dengan bergabung di Nahdlatul Ulama.

“Dengan saya berkhidmah di Nahdlatul Ulama, semoga saya diakui menjadi santrinya dan lebih bermanfaat bagi orang lain melalui jalur organisasi,” pungkasnya.

Redaktur: Zaenal Faizin