Menengok Upacara Pengibaran-penurunan Bendera di Pondok Tremas

0
426
Suasana Upacara Pengibaran Bendera di Pondok Tremas

Tremas– Keluarga besar Pondok Tremas Pacitan memperingati hari kemerdekaan ke-77 Republik Indonesia dengan menggelar upacara pengibaran bendera merah putih di halaman masjid Pondok Tremas. Rabu pagi (17/8).

Upacara detik-detik proklamasi berlangsung dengan tenang, para santri begitu khidmat mengikuti jalanya upacara. Pengasuh KH Luqman Harits yang bertindak sebagai inspektur upacara menggobarkan semangat nasionalisme kepada ribuan santri putra.

Upacara ini digelar sebagai salah satu wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan dalam rangka menumbuhkan jiwa nasionalisme para santri.

Sementara itu, pada sore harinya dilakukan upacara penurunan sang saka merah putih yang diikuti lebih dari seribu santri putri.

Pasukan pengibar bendera (Paskibra) merupakan santriwati terbaik yang terpilih dibawah binaan paskibra At-Tarmasi. Nabila Maulida Wantoko, selaku pemimpin kompi sukses membawa pasukannya menurunkan sang saka merah putih.

Deg-degan sekali, apalagi ketika laporan kepada inspektur, rasanya Tremor banget tapi menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena hal ini adalah kesempatan emas yang perlu saya syukuri, semoga kedepannya bisa jauh lebih baik lagi” ucap Nabila ketika ditanya perihal perasaanya setelah sukses memimpin pasukannya menurunkan bendera merah putih.

Upacara Penurunan Bedera

Upacara penurunan bendera merah putih melibatkan jajaran Masyayikh pondok Tremas, asatidzah, dan mahasantri dari Ma’had Aly At-Tarmasie. Adapun Palang Merah Remaja (PMR) juga turut membantu melancarkan jalannya upacara.

“Alhamdulillah upacaranya lancar, hanya saja beberapa santri ada yang nggak kuat (pingsan)” ucap Aisya Rahmadini, anggota PMR putri.

Gus Muadz Harits saat upacara penurunan bendera

Gus Mu’adz selaku inspektur upacara menyampaikan amanat yang berisi pesan-pesan kemerdekaan.

“Upacara penurunan bendera bukan berarti perjuangan telah selesai, akan tetapi bendera yang sudah diturunkan disimpan di tempat yang semestinya, yang berharga” tuturnya.

Penulis : Intan Akmala Rizqi

Redaktur : Zaenal Faizin