Hanya ada di Tremas, Tradisi Unik Santri Baru

0
762
Masjid Pondok Tremas

Tremas- Sejak dibukanya tahun pelajaran baru pada tanggal 15 Syawal, gelombang santri baru yang mondok ke Pondok Tremas Pacitan terus berdatangan. Mereka datang dari berbagai daerah dan berangkat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Ratusan santri baru sudah mulai beradaptasi dengan aktfitas kegiatan dan kultur pesantren. Lalu apa saja kegiatan yang dilakukan santri baru di Pondok Tremas? Kami berhasil menghimpun beberapa tradisi unik santri baru di pesantren yang menjadi tempat kelahiran ulama internasional asal Nusantara, Syekh Mahfudz Attarmasi itu.

Tidak Tidur Siang Selama Satu Minggu

Pertama, dalam sepekan ini santri baru tengah menjalani sebuah tradisi unik yang sudah mengakar di kalangan santri Pondok Tremas, yaitu tradisi tidak tidur siang selama tujuh hari sejak hari pertama kedatangan mereka di Tremas.

Tidak tidur siang, suatu hal yang kelihatannya sepele dan ringan ini ternyata sangat sulit dilakukan. Dalam prakteknya, biasanya para santri baru selalu mendapat berbagai cobaan dan godaan, seperti merasakan kantuk yang sangat berat.

Untuk itu para santri senior biasanya dengan senang hati akan membantu mereka dengan selalu mengingatkan dan bahkan menunggui atau mengajaknya jalan-jalan keliling perkampungan Desa Tremas agar tidak tertidur.

Pada prinsipnya, tradisi seperti ini tidak terdapat dasar hukumnya sama sekali. Ini merupakan tradisi yang sudah  diwariskan secara turun temurun. Apalagi Pondok Tremas pun tidak menulisnya dalam sebuah peraturan.

Apabila santri baru dapat berhasil dalam melakukan tradisi ini, maka itu merupakan pertanda yang baik bagi keberlangsungan belajar mereka di Pondok Tremas. Biasanya santri baru akan segera betah dan kerasan tinggal di pesantren kalau sudah lulus ujian mental yang  pertama ini.

Ziarah 41 Hari Tanpa Putus

Kedua, di pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M ini, lahir sebuah tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru “diusahakan”, bahkan ada yang  “wajib” untuk dapat rutin berziarah ke makam masyayikh (sesepuh) Pesantren selama 41 hari berturut-turut tanpa putus.

Santri baru berusaha mentradisikan ziarah ke makam para sesepuh tiap pagi dan sore hari ke makam Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter, barat daya dari komplek Pondok Tremas dan makam Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (pinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jum’at.

Di makam gunung Lembu bersemayam para sesepuh dan pengasuh Pondok Tremas, seperti KH Dimyathi, KH Abdurrozaq, KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, KH Hasyim Ihsan, KH Toyyib Hasan Ba’bud, KH Mahrus Hasyim, dan para kiai Tremas yang lain.

Sedangkan di makam bukit Semanten, Pacitan, dimakamkan para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo ( Wafat 1860) pendiri pertama Pondok Tremas Pacitan yang merupakan generasi pertama orang indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Sayyid Hasan Ba’bud dan sesepuh lainya.

Kegiatan berziarah selama 41 hari kelihatannya ringan dan gampang dilakukan, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mencapai target sempurna, ada saja kendalanya, seperti hujan, ketiduran, dan halangan-halangan lainya.

Bila para santri berhasil mencapai target 41 hari tanpa putus, maka itu merupakan pertanda yang baik bagi mereka. Artinya mereka benar-benar sabar dalam menghadapi tes mental kedua ini, setelah tidak tidur siang selama satu minggu.

Dalam sebuah kesempatan peringatan Haul, pengasuh Pondok Tremas KH Fuad Habib Dimyathi mengatakan, salah satu wujud cinta kepada para ulama, diantaranya dengan sering menziarahi makamnya. Setidaknya, orang yang sering melakukan ziarah akan terlihat berbeda dengan orang yang tidak biasa melakukan ziarah ke makam para ulama.

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupanya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur,” ungkap Kiai Fuad.

Ziarah kubur, imbuhnya, merupakan salah satu amaliyah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Apalagi ziarah ke makam para ulama, walaupun sudah wafat, namun sejatinya mereka masih hidup di sisi Allah SWT.

Para santri Pondok Tremas percaya akan hal itu dan merekapun berusaha mentradisikan ziarah sebagai bentuk ta’dhim (penghormatan) kepada para ulama.

Nahun, Tidak Pulang Selama 3 Tahun 3 Bulan

Ketiga, tradisi Nahun, disebut juga tirakat atau lelakon. Tradisi ini pertama kali dilakukan oleh santrinya Simbah KH Dimyati (Wafat 1934 M), dimana pada saat itu perkembangan Pondok Tremas sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru nusantara, dan bahkan ada yang datang dari Negara tetangga.

Karena letak pesantren yang jauh dari kampung halaman para santri, sementara waktu itu alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah “Nahun” dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari komplek pesantren dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari.

Mengenai jangka waktu pelaksanaan tradisi Nahun sebenarnya tidak ada ketentuanya, dan hanya istilah yang digunakan para santri kala itu, bahkan Pondok Tremas pun tidak mengatur tentang hal ini.

Ada sebuah kisah unik yang melatarbelakangi tradisi Nahun ini. Suatu ketika, Isteri KH Dimyathi yang bernama Nyai Khotijah yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami kejadian yang sangat aneh. Yaitu saat beliau mencuci beras untuk dimasak, tiba –tiba beras tersebut berubah menjadi emas.

Nyai Khotijah pun merasa kaget, seraya berdo’a, “Ya Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-MU ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul’ilmi (ahli ilmu) dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah”, seraya membuang emas tersebut kedalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi Nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pesantrn Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya, hingga setelah terjun di masyarakat kelak.

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi Nahun yang berlaku di kalangan santri Pondok Tremas ada tiga, pertama, tidak keluar dari komplek Pondok Tremas. Kedua, tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan. Ketiga, tidak pulang kerumahnya.

Yang berlaku umum di kalangan santri Pondok Tremas sekarang ini adalah tradisi Nahun sesuai kategori kedua dan ketiga, dengan waktu minimal 3 tahun.

Baca juga

Gus Haidar Ungkap Tiga Rahasia Menjalani Tradisi Nahun

Kebanyakan mereka yang melakukan tradisi Nahun adalah santri yang berasal dari luar Jawa, namun pada perkembangannya, santri asal pulau Jawa juga banyak yang melakukan tradisi ini.

Mereka yang melakukan Nahun berangkat dari keinginan mereka sendiri, didasari niat yang tulus untuk bersungguh-sungguh belajar dan berharap berkah dari para sesepuh Pondok Tremas.

Demikianlah tradisi-tradisi unik santri Pesantren yang tidak ditemui di lembaga lain manapun. Tradisi ini merupakan khazanah kekayaan pesantren yang keberadaanya masih terjaga dengan baik sebagai ciri khas pendidikan Islam asli Nusantara. (Zaenal Faizin)

 

Artikel ini pertama kali terbit di NU Online pada Selasa 10 Juli 2018 13:00 WIB. Redaksi memuatnya kembali dengan sedikit penyuntingan.

Komentar Anda