Mengenal Sosok KH. Hamid Dimyathi

0
948

TENTANG KIAI HAMID DIMYATHI

Tempo hari, Jumat, 18/11/2022, dini hari lepas subuh seorang kerabat ( mbak Ambar Rukmini ) nelpon dan minta saya hadir di Kantor Dinas Sosial Kota Surakarta. Sampai di tempat ternyata sudah ditunggu utusan dari Dinas Sosial Kabupaten Pacitan dan keluarga ahli waris Kiai Hamid dari Jogja.

Singkat cerita, pertemuan itu sebenarnya bagian dari proses identifikasi makam tak dikenal di TMP Kusuma Bakti, Jurug, Surakarta, yang telah dimulai setengah tahun lalu terkait rencana jangka panjang pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional.

Setelah melalui proses riset dan rekonstruksi sejarah gugurnya Kiai Hamid pada masa Affair Madiun, makam tak dikenal tersebut diyakini sebagai makam Kiai Hamid dan pihak Dinas Sosial Kota Surakarta setuju dan resmi mengganti nisan tak dikenal dengan nisan baru bertuliskan Kiai Hamid Dimyathi.

Siapa Kiai Hamid Dimyathi?

Ia dikenal sebagai kiai muda yang cerdas, visioner dan punya kemampuan di atas rata-rata pada zamannya. Sebagai putra laki-laki pertama Mbah Kiai Dimyathi Tremas, ia berhasil meneruskan estafet kepemimpinan pondok dengan reputasi yang luar biasa. Bersama Kiai Ali Maksum (Krapyak) dan Kiai Hamid (Pasuruan), restorasi pengembangan Pondok Tremas mengalami kemajuan hingga popularitas Tremas era Kiai Dimyathi mampu dipertahankan meski saat itu sudah mulai banyak pesantren-pesantren baru bermunculan.

Sebagai kiai muda, beliau tidak sekadar alim dalam ilmu agama, tapi juga waskita, sesuatu yang lazim dimiliki para kiai karena level spiritualitasnya telah mencapai maqam tertentu. Mata batin dan intuisinya yang tajam menjadi bukti ketinggian ilmu hakikatnya. Hal ini ditunjukkan dalam sang kiai dengan murid seniornya, Prof Mukti Ali, saat hendak sorogan kitab Hikam, sebuah kitab yang mengkaji tasawuf secara mendalam. Permintaan sang murid tidak dikabulkan dan disarankan untuk belajar filsafat yang lebih cocok bagi sang santri. Sesuatu yang kemudian disadari oleh Mukti Ali sebagai ketajaman intuisi Kiai Hamid Dimyathi melihat bakat dan potensi yang dimilikinya. Prof Mukti Ali yang awalnya sangat mencintai dunia tasawuf, akhirnya menemukan jalan hidupnya, lebih menekuni bidang filsafat yang ternyata lebih cocok dg jalan hidupnya.

Di luar kesibukannya sebagai pengasuh, aktifitasnya di dunia politik dan pemerintahan juga cukup tinggi. Hal ini membuatnya punya relasi yang luas dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, yang merupakan tokoh penting pergerakan nasional dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Tidak mengherankan bila sepak terjang dan ketokohannya berimbas pada perkembangan Pondok Tremas, yang pada waktu itu sudah memperkenalkan model pendidikan klasikal (madrasah) dengan ditunjang koleksi buku-buku perpustakaan terlengkap pada masanya dan menjadi salahsatu kiblat perkembangan pesantren di Jawa Timur.

Pada masa peralihan kekuasaan pasca Proklamasi Kemerdekaan, Kiai Hamid Dimyathi juga tercatat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sekaligus sebagai petinggi Partai Masyumi, partai yang merupakan gabungan berbagai ormas Islam. Disamping sebagai pengasuh Pondok Tremas, beliau juga diketahui sebagai Kepala Penghulu di Kabupaten Pacitan.

Keadaan sosial-politik tak menentu sebelum meletusnya Pemberontakan PKI 1948 di Madiun, atau lebih dikenal dengan Affair Madiun, memaksa Kiai Hamid sering melakukan perjalanan, membangun komunikasi dan kontak langsung dengan pemerintah pusat, yang waktu itu berada di Yogyakarta, untuk melaporkan situasi dan kondisi wilayahnya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Aktifitasnya di bidang politik membuatnya menjadi incaran musuh, dan puncaknya pada waktu meletusnya peristiwa Affair Madiun, saat beliau harus ke ibukota ( Jogja ) dalam rangka memberikan laporan perkembangan situasi politik yang ada, bersama para pengawal yang berjumlah 14, harus mengalami nasib nahas. Mereka dihadang segerombolan musuh di daerah Tirtomoyo, Wonogiri, dan dieksekusi bersama beberepa tawanan dari pejabat pemerintahan Kabupaten Wonogiri dan Sukoharjo. Paska peristiwa Affair Madiun, sebagian dari korban kekejian PKI tersebut kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Jurug, Surakarta.

__

Hasil penelusuran sejarah dan wawancara dengan beberapa saksi hidup, sebagaimana telah dilakukan oleh Tim dari Kabupaten Pacitan, Jasad Kiai Hamid termasuk diantara beberapa jasad yang dipindahkan ke Makam Jurug bersama Bupati Sukoharjo, Wedana Sukoharjo dan beberapa pahlawan lainnya dalam satu blok.

Terlepas dari segala spekulasi dan kontroversinya, saya bersama keluarga ahli waris dari putri ( Mbak Kun) dan cucu-menantu Kiai Hamid Dimyathi, meyakini keberadaan makam tersebut sebagai tetenger makam beliau yang sah.

Wallahu a’lam.

Sumber: FB Gus Ade