Kiai Haji Fuad Habib, Pribadi yang Meneduhkan

0
471
KH Fuad Habib Dimyath / poto : Istimewa

Menyenangkan, memanusiakan, memancarkan kharisma rahmah, dan amanah. Itu adalah prasasti yang tergurat dalam pualam hatiku ketika membayangkan Kiai Fuad. Saya yakin masing-masing santri Tremas memiliki kenangan dan cerita unik tentang Kiai Fuad. Santri yang tinggal di ndalem pasti lebih banyak memotret keindahan Kiai Fuad.

Ketika aku masih menempuh pendidikan di Madrasah Salafiah Masaiyah Perguruan Islam Pondok Tremas sering berpapasan dengan Kiai Fuad. Biasanya berpapasan di perbatasan Tremas – Sedayu. Entah Kiai Fuad dari mana aku tak tahu. Kalau tidak salah mobil yang dikendarai waktu itu adalah kijang. Setiap kali berpapasan, dari dalam mobil sambil menyetir beliau menganggukkan kepala pada kami yang baru pulang dari sekolah.

“Iku mau pak yai.” Temanku yang bernama Musofa memberi tahu ketika aku tidak ndingkluk memberi hormat. Aku manggut-manggut. Jujur aku baru tahu dari Musofa bahwa sosok yang setiap sore hampir berpapasan dengan kami itu adalah Kiai Fuad. Sejak diberi tahu Musofa, setiap kali berpapasan wajahku selalu ndingkluk sebagai bahasa isyarat ketakdhiman.

Selesai menempuh jenjang pendidikan di tingkat tsanawiyah aku melanjutkan ke tingkat aliyah. Menjelang tahun kedua aku bertanya-tanya kapan mendapatkan pelajaran langsung dari Kiai Fuad ? Anugrah itu baru kami peroleh ketika kelas aliyah ahir atau Al Yamin. Kitab Idhotun Nasyiin karya Syaikh Mustofa Al Gholayn menjadi kajian Kiai Fuad. Waktunya setelah selesai shalat maghrib sampai isya’ dan tempatnya di madrasah depan masjid. Kadang-kadang Kiai Fuad sendirian dan kadang-kadang ditemani Ning Mia.

Beberapa hal yang masih aku ingat, sebelum mengajarkan kitab Idhoh Kiai Fuad memberikan muqaddimah atau pengantar agar kami berhati-hati dalam belajar. Jangan sampai ilmu yang dipelajari tidak manfaat. Jangan sampai ilmu itu malah menyesatkan. “Percuma iso ambles bumi, iso miber nek langit, yen ora slamet. Mending biasa-biasa ae tapi slamet donyo ahirat.” Nasehat itu sangat menggurat dalam hatiku.

Kiai Fuad memberikan warning pada saat yang tepat. Meski secara pribadi aku bisa sedikit menangkap dan mencerna warning itu setelah bertahun-tahun dinyatakan sebagai alumni. Kiai Fuad memberikan warning bersamaan dengan “kegilaan” kami mempelajari ilmu-ilmu hikmah. Ketika kelas aliyah ahir kami mulai ngaji kitab-kitab hikmah kepada Allah yarham KH. Mahrus Hasyim dan Allah yarham Habib Thoyib Ba’bud.

Motivasi santri pun macam-macam. Ada yang ingin menguasai kejadugan, mahabbah, dan sebagainya. Waktu itu banyak teman-temanku yang berburu ijazah doa, shalawat, hizib, dan seterusnya. Berhubung ijazah-ijazah itu harus diamalkan dalam pantauan guru maka Kiai Fuad mengingatkan kami untuk fokus mengaji dan berdoa mohon keselamatan dunia-ahirat.

Kiai Fuad memberikan nasehat agar motivasi dan niat mempelajari ilmu yang aneh-aneh itu tetap dalam koridor lillahi ta’ala. Bukan untuk yang lain ! Hal itu persis yang disampaikan Allah yarham Habib Thoyib ketika selesai memberikan ijazah. “Iki luwih apik yen dibarengi poso senin kemis. Tapi ojo mosoni iki, poso senin kamis tetap niate nderek sunahe Kanjeng Nabi.”

Kenangan lain yang masih aku simpan ketika ngaji Idhoh biasanya Kiai Fuad menyelingi dengan kisah-kisah atau pengalaman. Hikayat yang masih aku ingat adalah amanah Kiai Fuad ketika nyantri kepada Allah yarham Kiai Ali Maksum di Krapyak. Kiai Fuad memang memiliki kedekatan dengan Allah yarham Kiai Ali Maksum. Gus Muad pernah menceritakan ketika di Krapyak Kiai Fuad adalah salah satu santri yang memelihara ayam jago. Pernah suatu ketika ayam jago Kiai Fuad dilepaskan oleh Allah yarham Gus Kelik. Karena ayam jago itu adalah kesayangan Kiai Fuad maka Kiai Fuad pun mengajak Gus Muad mencari ayam jagonya. Gus Muad juga pernah digojlog Kiai Fuad. Kejadian itu terjadi ketika Gus Muad ngaji langsung pada Allah yarham Kiai Ali Maksum. Berhadapan dengan Allah yarham Kiai Ali Maksum keringat dingin Gus Muad pun mengalir deras. Wibawa dan kharisma Allah yarham Kiai Ali Maksum membuat Gus Muad gemetar. Basah kuyub oleh keringat baju yang dikenakan Gus Muad. Setelah selesai mengaji dan ketemu Kiai Fuad di luar, Kiai Fuad pun menggojlog, “Opo bar kramas kok teles kabeh ?”

Kedekatan Kiai Fuad dengan Allah yarham Kiai Ali Maksum terpotret ketika Allah yarham Kiai Ali Maksum berada di rumah sakit. Selain keluarga ndalem Krapyak, Kiai Fuad adalah santri yang ikut menjaga Allah yarham Kiai Ali Maksum. Suatu ketika, karena ada keperluan meninggalkan rumah sakit, Bu Nyai Ali Maksum titip pesan kepada Kiai Fuad.

“Gus… Saya pergi dulu. Tolong jangan diizinkan masuk ke kamar, siapa pun yang tidak sampean kenal dan ingin menjenguk Mbah Ali”

Sepeninggal Bu Nyai Ali Maksum berombong-rombong orang ingin menjenguk Allah yarham Kiai Ali Maksum. Rombongan demi rombongan pun tak bisa menemui Allah yarham Kiai Ali Maksum. Kenapa ? Sebab Kiai Fuad dan putra-putra Allah yarham Kiai Ali Maksum tidak mengenal mereka.

Sampai suatu saat ada rombongan yang datang dengan pakaian khas kiai. Putra-putra Kiai Ali Maksum tiba-tiba mundur, tidak berani mendekat. Rombongan itu meminta izin untuk bertemu Allah yarham Kiai Ali Maksum. Berhubung Kiai Fuad tidak mengenal mereka, maka Kiai Fuad pun tidak memberikan izin. Sempat terjadi perdebatan yang alot.

“Kami ingin mendoakan Kiai Ali”

“Mendokan kan tidak harus masuk ke dalam. Saget teng mriki”

Ketua rombongan itu pun ahirnya mengikuti usul Kiai Fuad. Mereka mendoakan Allah yarham Kiai Ali Maksum dari luar ruangan. Setelah selesai berdoa mereka pun pamit. Ketika rombongan itu pamit, putra-putra Allah yarham Kiai Ali mendekati Kiai Fuad dan mempertanyakan kenapa mereka tidak boleh masuk.

“Saya kan tidak mengenal mereka.” Bela Kiai Fuad.

“Rombongan tadi itu setengah wali lho, Gus.”

“Lha memang siapa ?”

“Tadi itu Mbah Lim”

“Ya biarkan. Lha tadi malah kalian gak ada yang mendekat”

Sebenarnya ada kilatan-kilatan lain tentang Kiai Fuad. Mungkin suatu saat saja aku tulis. Sebagai penutup. Aku akan menuliskan pengalaman dan amanah Kiai Fuad terhadap khittah Tremas. Suatu ketika aku mendapatkan amanah berkait pemilihan kepala daerah di suatu wilayah.

“Kiai, dalem angsal amanah bla, bla, bla”

Kiai Fuad mendengarkan dengan seksama. Kemudian beliau justru balik bertanya. “Terus sikapku harus bagaimana ? Mbah …. iku guruku. Mbah….. iku yo guruku,” Kiai Fuad menyebut dua orang sesepuh Nusantara yang kebetulan mendukang pasangan yang berbeda.

“Nyuwun pangapunten Kiai. Sak ngertos kulo Tremas mboten dukung mendukung secara langsung dalam politik praktis. Sepindah malih nyuwun pangapunten”

“Lha yo iku. Aku yo ngono kuwi. Tremas yo ngono kuwi.”

Dan selamat ulang tahun Kiai Fuad Habib Dimyathi. Semoga Allah SWT menganugerahkan umur yang panjang lagi berkah, sehat wal ‘afiat, dan semakin bermanfaat bagi umat. Aamiin.

Imam Muhtar, Santri Tremas, penulis buku

Komentar Anda