Memetik Hikmah Isra’ Mi’raj di Tengah Pandemi

0
25

Bukan berarti prespektif sains yang dikaji oleh para sekuler. Tetapi saya mencoba untuk mendudukan agama dan sains karena pada prinsipnya agama dan sains itu terintegrasi, tidak terpisah maupun berdiri sendiri.

Isra’ Mi’raj adalah kisah lama yang relevansinya tidak akan pernah pudar sampai zaman sekarang. Dalam tahun Hijriyah di setiap bulan kita memperingati hari-hari besar, bulan Ramadhan kita memperingati Nuzulul Qur’an, bulan Syawal kita memperingati Idhul Fitri, bulan Dzulhijjah kita memperingati Idhul Adha, bulan Muharram kita memperingati Hijrah Nabi Muhammad SAW, pada bulan Rabi’ul Awal kita memperingati Maulid Nabi, dan pada bulan Rajab kita memperingati Isra’ Mi’raj.

Allah SWT memberikan keistimewaan terhadap Isra’ Mi’raj Nabi. Kenapa?

Karena, Allah memulai ayatnya dengan menggunakan سُبْحٓانٓ الْذِيْ dalam ilmu balaghah kalimat ini merupakan hijaz. Yaitu, kalimat pendek namun memiliki makna mendalam. Allah SWT menggunakan kalimat ini tentu ada sebabnya, yaitu keistimewaan. Kalimat سُبْحٓانٓ الْذِيْ itu memmpunyai makna tersirat   سُبْحٓانٓ اللّٰٓه الْذِيْ أٓسْرٓى. Karena apa? Dalam beberapa kisah dalam Al-Qur’an setiap peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu, seperti penciptaan Nabi Adam Allah tidak menggunakan kalimat سُبْحٓانٓ الْذِيْ, dalam kisah Nabi Sulaiman  tidak menggunakan kalimat سُبْحٓانٓ الْذِيْ, bahkan umat yang ditimpa dengan adzab dan angin topan dengan badai kisah Nabi Musa a.s  mengalahkan Fir’aun membelah laut tidak menggunakan kalimat سُبْحٓانٓ الْذِيْ. Kalimat سُبْحٓانٓ الْذِيْ itu adalah jaminan dari Allah SWT maha suci dari segala kekurangan, kelemahan, dan segala kerusakan. Allah mempertaruhkan nama sucinya untuk meyakinkan umat Nabi Muhammad bahwa Isra’ dan Mi’raj itu nyata adanya.

Selanjutnya, lafadz أٓسْرٓى  dalam kalimat  سُبْحٓانٓ اللّٰٓه الْذِيْ أٓسْرٓى ini artinya Allah yang telah menjalankan, jadi yang aktif dalam peristiwa ini adalah Allah sedangkan Nabi adalah pasif. Dalam hal ini Allah lah yang aktif dalam me- Isra’ kan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke  Masjidil Aqsha dalam sepertiga malam. Oleh karena hal ini, ketika Nabi kembali ke bumi dan menyampaikan bahwa Nabi telah Isra’ Mi’raj banyak yang mengingkari, kenapa? Karena tidak logis dan tidak rasional. Akan tetapi yang menjawab hal itu adalah keimanan. Hal ini karena Allah yang telah me-Isra’kan-Nya, maka sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Setelah Nabi Muhammad SAW turun ke bumi menyampaikan kepada ummatnya tentang kemanusiaan dan spiritual. Jikalau Nabi itu egois, tentunya Nabi Muhammad tidak mungkin tidak mau pulang ke bumi karena telah mencapai kenikmatan yaitu berjumpa dengan Allah. Tetapi Nabi memiliki misi humanisasi, yaitu kembali ke bumi untuk “مِنَ الظُّلُوْمَاتِ إِلٰى النُّوْرِ ” dari perilaku orang, masyarakat yang semulanya dzalim, kejam, dan bodoh menuju masyarakat yang penuh cahaya keilmuan dan peradaban, Inilah misi Nabi Muhammad SAW.

Kemudian kalimat berikutnya adalah بِعَبْدِهِ. Kenapa Allah menggunakan kalimat ini? karena Allah telah mengisra’kan hambanya. Kenapa tidak secara khususnya saja yaitu بِمُحَمًَدٍ. Dalam kalimat عَبْدِهِ ini memiliki dua data, data yang pertama adalah bahwa Nabi di-Isra’kan dengan ruh dan jasadnya. Data yang kedua menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba yang di akui oleh Allah. Terkadang kita mengakui bahwa kita ini mengakui sebagai hamba Allah, Namun belum tentu Allah itu mengakui kita sebagai hambanya. Sedangkan kita masih menjadi hamba dunia, budak harta, jabatan, kehormatan, dan lain sebagainya Namun kita telah percaya diri bahwa kita menjadi hamba Allah yang sempurna.

Nabi Muhammad sebelum Isra’ Mi’raj mengalami masa kesusahan yaitu atau dikenal dengan ” ‘Ammu khuzni”. Sebagai bentuk hadiah Allah kepda Nabi, kemudian Nabi di-Isra’-kan.

Kemudian tujuan dari Isra’ Mi’raj itu sebenarnya pada ayat-ayat terakhir yaitu لِنُرِيَهُ مِنْ أَيَاتِنَا, bahwa Allah ingin memperlihatkan keagungan Tuhan. Karena pada saat Isra’ Mi’raj Nabi mendapatkan beberapa gambaran kehidupan.

Nabi diperlihatkan ada orang yang sedang mencakar wajahnya.

lalu Nabi bertanya kepada Jibril,

“Wahai Jibril, Siapa itu?”,

Jawab Jibril ;

“itu adalah gambaran umatmu yang suka menjelek-jelekkan saudaranya.”

Jika kita menjelek-jelekkan orang lain, maka kita akan menggaruk wajah kita sendiri. Karena menjelek-jelekkan orang lain sama halnya kita menjelek-jelekkan diri sendiri.

Kemudian Nabi diperlihatkan seorang yang memotong lidahnya sendiri.

Kata Jibril ;

“Itu adalah gambaran orang yang menyebar berita bohong atau hoax”.

Ini merupakan gambaran para lenyebar hoax ataupun berita bohong, kelak di akhirat akan memotong lidahnya sendiri.

Selanjutnya diperlihatkan seseorang yang memikul kayu yang begitu berat, namun dia terus menerus menumpuk kayunya itu sampai dia tidak kuat.

Jibril menjelaskan ;

“itu adalah perumpamaan bagi orang yang menerima amanah terus-menerus dan menerima amanah yang lain dan tidak diamalkan semuanya.”

Hal ini kalo nabi tidak menjalankan amanah, ibarat seseorang yang terus-menerus menumpuk kayu di atas punggungnya.

Nabi juga diperlihatkan orang yang menanam tumbuhan langsung berbuah, di petik buahnya tumbuh lagi dan seterusnya.

Jibril menjelaskan ;

“Hal itu adalah perumpamaan orang yang bersedekah, zakat, infaq, dan lain sebagainya.” Karena ketika hartanya dibelanjakan di jalan Allah  pada hakikatnya itu adalah harta yang tak pernah putus sampai hari kiamat. Sementara harta yang kita belanjakan kepada selain Allah itu hanya sementara.

Dan juga perintah inti dari Isra’ Mi’raj adalah perintah untuk melaksanakan sholat. Dan Nabi dipanggil secara langsung menghadap Allah SWT. Sedangkan Untuk memerintahkan ibadah lain Allah cukup dengan menurunkan ayat. Hal ini menunjukkan bahwa sholat merupakan sesuatu yang penting. Dalam organ tubuh, sholat dapat diposisikan sebagai kepala karena sangat penting.

Perintah sholat menggunakan kalimat “dirikanlah sholat, bukan kerjakanlah sholat.” Lalu apa perbedaan mengerjakan dengan mendirikan?

Kalau orang mengerjakan itu bisa bermakna formalitas atau menggugurkan kewajiban. Kalau mendirikan seorang melakukan sholat dengan khusyu’ sesuai syarat dan rukun kemudian perilaku, sifat, dan ketoatannya memiliki makna  sholat baik kehidupan dirumah ataupun diluar rumah, hal ini merupakan makna dari fitikanlah sholat.

Kemudian bagaimana kita memetik hikmah Isra’ Mi’raj dalam kontek pandemi ini?

Seperti keterangan di atas bahwa Nabi pernah mengalami kesusahan atau ammul khuzni, kalau dimasa pandemi ini kita sedang di uji oleh Allah. Ini merupakan ujian kepada kita agar kita mampu membenahi diri dan menyadari bahwa kita adalah Abdullah dan Khalifah Allah di bumi. Sebagai hamba Allah kita wajib berdzikir yang dimensinya spiritual antara hamba kepada sang pencipta sambil berdoa dan taqorrub. Dari dimensi Khalifah di bumi, kita sebagai manusia dianjurkan untuk ikhtiar dan berusaha. Karena kalau kita mengambil dari makna sholat, sholat itu bermakna tawadhu rendah hati. Ketika sujud, manusia itu antara kaki dan wajah sama-sama menyentuh tanah.

Kalau Isra’ Mi’raj kalau kita terapkan dalam nasionalisme begini. Makna perintah sholat itu, mempunyai arti “perintah sesuatu itu berartikan perintah medianya.” Media sholat adalah wudhu yang bermakna perintah mendekati air. Kemudian ketika kita sujud, perintah mendekat pada bumi. Berarti hal ini dapat diartikan perintah untuk mendekati air dan bumi, yang artinya cinta tanah air. (Anwar Sanusi)

Komentar Anda