Cerita Alumni Rintis Usaha Warung Kopi Tanpa Meninggalkan Ngaji

0
555
Khozin saat menyeduh kopi untuk pelangganya

Pacitan– Kemandirian santri memang sudah teruji sejak di pesantren. Beragam pengalaman di pesantren dijadikan bekal untuk terjun di dunia bisnis.

Ahmad Khozinuddin, salah satunya. Alumni Pondok Tremas Pacitan itu memberanikan diri membuka warung kopi di lingkungan kuliahnya. Untuk mengawali usahanya, dia menggunakan ruang kontrakan berukuran 6×8 meter di Kelurahan Baleharjo, Kecamatan Pacitan, Kota Pacitan.

Kepada tim redaksi pondoktremas.com yang menyambanginya pada Senin (03/01/2022) dia mengatakan, latar belakang memilih usaha warung kopi karena saat di pesantren sudah diajarkan tentang ilmu kewirausahaan.

Dia mempelajari beberapa tips berjualan ketika menjadi salah seorang pelayan warung kopi di Tremas. Lalu, pengalaman yang dia dapat itu mulai diamalkan ketika terjun di dunia perkuliahan.

Di warungnya, dia menyediakan berbagai varian kopi, seperti kopi Nawangan, kopi Tegalombo, kopi jangkung, dan masih banyak produk lainnya.

“Bahan-bahan tersebut selain mudah didapatkan di Pacitan, juga sebagai  upaya dalam mengembangkan produk lokal daerah” kata pemuda berdarah Banyumas itu.

Warungnya memiliki keunikan tersendiri. Tidak sebagaimana mestinya, ia menggunakan sepeda motor C-70 (pitung) yang dimodifikasi sebagai meja kasirnya.

“Saya terbiasa menyukai sesuatu yang bersifat unik dan klasik. Maka dari itu, saya mencoba hal yang baru menggunakan sepeda motor pitung sebagai meja kasir,” imbuhnya.

Suasana warung kopi

Usaha warung kopi yang dirintiisnya itu cukup ramai. Dia dibantu dua orang temanya. Para pelangganya datang dari berbagai kalangan. Warungnya buka mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 24.00 WIB, dan istirahat setiap hari Minggu.

“Saya libur hari Ahad, khususnya malam senin. dikarenaan malam senin tersebut hari yang mulia bertepatan juga dengan malam kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah diajarkan di pesantren setiap malam senin melaksanakan rutinan untuk memperingati hari kelahiran Rasulullah,” ucap pria yang juga mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan tersebut.

Salah satu pengunjung, Khoirul Anam mengatakan bahwa warung ini memiliki banyak kelebihan dan daya tarik yang tidak dimiliki oleh warung kopi pada umumnya.

“Ini sangat menarik, bahkan saya baru pertama kali menemukan warung kopi gang seperti ini. mempunyai sisi artistik yang baik dan unik,” katanya.

Penulis : Anwar Sanusi

Editor : Zaenal Faizin