Poros Tremas-Krapyak, Nazham Asmaul Husna dan Kiai Ali Maksum (2-habis)

0
403
Almaghfurlah KH Ali Maksum Krapyak

Siapa sesungguhnya penggubah Nazham Nailul Muna yang berisi pujian Asmaul Husna dan dikenalkan oleh KH Ali Maksum? Pujian Asmaul Husna ini memang cukup popular di Pondok Krapyak dan Tremas, meski sebenarnya banyak pesantren yang juga menjadikannya sebagai wirid sebelum memulai aktifitas, seperti di pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus dan masih banyak pesantren lainnya.

Bahkan Sebagian kalangan menyebut nazham ini sebagai Nazham Asmaul Husna Mbah Ali maksum karena mereka mendapatkan ijazah amalan tersebut dari beliau.

Tentang siapa penyusun manzhumah Nailul Muna yang lebih dikenal dengan nazham Asmaul Husna ini, tidak banyak literatur yang mengungkap. Ada yang berpendapat bahwa nazham ini dibawa Kiai Ali Maksum dari Tremas. Pendapat lain yang menguatkan berdasarkan cerita Gus Nukman Thohir, pengasuh Pondok Pesantren Kajen, Pati.

Berdasarkan cerita langsung dari KH Ali maksum ( w.1990 ), bahwa manzhumah ini disusun oleh Syeikh Yusuf bin Ismail Al-Nabhany, seorang ulama abad 19 alumnus Al-Azhar kairo, Mesir, yang juga menulis kitab “Syawahid al-Haqq” dan “Sa’adah al-Darain, fii al-Shalawati ‘ala Sayyid al-Kaunain”.

Sebagaimana dituturkan KH Ali Ma’shum, Manzhumah ini diterima ijazahnya dari ayahnya (KH Ma’shum Ahmad, P.P. Al-Hidayah Lasem Jawa Tengah) dari gurunya (KH Dimyati Abdulloh, Pondok Termas Pacitan), yang diterima dari kakaknya, Syeikh Mahfuzh al-Tremasi ( w. 1920 ), dan seterusnya bersambung pada penyusunnya, Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy.

Terlepas dari siapa sebenarnya penyusun manzhumah tersebut, salah satu santri Kiai Ali Maksum, KH Ahmad Mustofa Bisri, Rembang, memilih menerjemahkan nazham indah tersebut dalam bentuk terjemahan pegon yang diberi nama Al-Muna, dan sengaja tanpa menyantumkan nama pengarangnya. Cara beliau mengabadikan dalam bentuk kitab agar nazham tersebut tidak sekadar menjadi wirid tapi juga dipelajarai dan dipahami makna kandungannya agar benar-benar meresap dalam sanubari.

Secara garis besar, Manzhumah ini berisi doa-doa tawassul bil-Asmail Husna, yang memuat berbagai macam doa, mulai dari doa keselamatan agama, perlindungan dari berbagai gangguan musuh, hingga doa permohonan kebahagiaan dunia- akhirat dan dapat baca sebagai amalan wirid harian.

Yang belum berjodoh, wirid ini mungkin bisa jadi solusi. Wallahu a’lam. (Ahmad Muhammad)

Komentar Anda