Termas dalam Marjinalia Manuskrip Pesantren Madura

0
5

Salah satu poros yang cukup penting dalam dunia kepesantrenan di Nusantara adalah Pesantren Termas. Pesantren ini didirikan oleh seorang santri cum bangsawan bernama Bagus Darsa – selepas menuntut ilmu di Gebang Tinatar (Tegalsari) ia lebih dikenal dengan nama Abdul Mannan b. Kiai Dipomenggolo. Selain dikenal sebagai kakek dari “ngalim-ngalimnya” orang Jawi (yakni Kiai Mahfudz b. Abdullah b. Abdul Mannan, pengarang Ḥāsyiyah al-Turmusī), Kiai Abdul Mannan juga dikenal sebagai perintis Pesantren Termas (ia dirikan sekitar 1830-an). Tak butuh waktu lama, segera setelah Pesantren Termas ia dirikan, Kiai Abdul Mannan langsung menjadi magnet bagi para “santri kelana”. Pembacaan saya atas beberapa marjinalia naskah pesantren Madura menunjukkan setidaknya ada tiga ulama penting yang mengaji ke Termas di bawah bimbingan Kiai Abdul Mannan.

1. Kiai Abu Bakar b. Zakariya Petapan
Ia adalah seorang ulama besar Madura dengan kualitas intelektual jempolan di masanya. Dalam salah satu naskah yang ia tinggalkan, terungkap bahwa ia pernah ngaji kepada Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo. Tak tanggung-tanggung, kitab yang ia pelajari adalah Nihāyat al-Muḥtāj, syarah Minhāj (yang kini dicetak dalam 8 jilid) karya Al-Ramlī. Dari catatan yang ditinggalkan Kiai Abu Bakar dalam kitab itu, terlihat kealiman Kiai Mannan yang secara aktif memberikan komentar dan, seringkali, tidak setuju dengan pendapat Al-Ramlī. Di kemudian hari Kiai Abu Bakar hijrah dari Petapan dan menjadi kiai besar di daerah Pengarangan, tepi jalan utama Bangkalan-Sumenep, dan memiliki santri dari berbagai penjuru: Banten, Banyumas, Banyuwangi. [1] Kiai Abu Bakar wafat di perairan Pulau Sokotra, di laut lepas Samudera Hindia, pada 8 April 1893 M (21 Ramadan 1310 H). [2]

2. Kiai Saleh Tambakagung
Salah satu contoh potret santri kelana yang “kāffah” adalah Kiai Saleh Tambakagung. Ia tercatat melakukan banyak sekali pengembaraan di Pulau Jawa. Barangkali pengembaraan terpentingnya adalah ketika ia mengaji kepada Kiai Mannan. Di antara kitab yang ia kaji adalah Miftāḥ al-Mannān, sebuah manual Tarekat Syattariyah. Dalam kolofon tertulis: “Aku mengaji kitab ini kepada guruku Pacitan dan guruku Imam Asy’ari Karang Gayam.” [3] Di kemudian hari masyarakat Bangkalan mengenal Kiai Saleh dengan sebutan Kiai Pacitan karena seringnya mengutip pendapat Kiai Mannan Termas dalam memecahkan persoalan fikih. [4]

3. Kiai Tohir
Nama berikut berasal dari pesantren kuna dekat pesisir utara Bangkalan: Pesantren Morombuh. Beberapa naskah dari Pesantren Morombuh mencatat bahwa pada pertengahan abad xix banyak di antara keluarga Pesantren Morombuh yang pergi berkelana ke Termas untuk menuntut ilmu. Di antaranya adalah sang pengasuh: Kiai Tohir b. Kiai Bindung. Kiai produktif ini tercatat beberapa kali menukil fā’idah dari Kiai Mannan. Tak hanya fikih atau tasawuf, ia pernah menukil tentang primbon-primbon dari Kiai Mannan. Di Morombuh masih ada beberapa nama dan naskah lagi yang masih “unidentified” yang menunjukkan keterkaitannya dengan Termas.

***

Di kemudian hari, tradisi berganti: beberapa keturunan Kiai Mannan tercatat pergi ke Madura untuk menuntut ilmu. Di antaranya adalah Syaikh Mahfudz [5] dan kakaknya: Kiai Dahlan [6], serta putra Kiai Dahlan: Kiai Ahmad Al Hadi [7].

[1] The diary of a Javanese Muslim: religion, politics, and the pesantren 1883 – 1886, hlm. 63.
[2] MS. Tārīkh al-Ḥawādits, Kiai Muntaha (salinan Kiai Abdul Hadi), hlm. 2.
[3] MS. Miftāḥ al-Mannān, anonimus (salinan Kiai Saleh), koleksi PP. Al-Akhyar.
[4] Miftāḥ al-Mannān, Dār Nah ḍat al-Turāts li Al-Indūnisiyyīn, 2023, (ed. Usman Hasan), hlm. ṭā’.
[5] Al-ʿIqd Al-Farīd, Dār al-Saqqāf, Surabaya, 1401 H, hlm. 79.
[6] Soal Kiai Dahlan b. Abdullah b. Abdul Mannan mengaji ke Bangkalan, penulis mendapatkan riwayat lisan. Akan tetapi hal ini diperkuat bahwa beberapa syair gubahan Kiai Khalil Bangkalan tentang kopi dikutip oleh Kiai Dahlan dalam karyanya, Tadzkirat al-Ikhwān fī Bayān al-Qahwah wa al-Dukhān.
[7] Pecinta Sejati Sunnah Nabi: Kiai Achmad Qusyairi, L’Islam, Pasuruan, 2023, hlm. 13-14.

Sumber : Kholili kholil