Rasulullah Tak Menggauli Istri-istri selama 10 Hari Terakhir Ramadhan

0
3493

Rasulullah ๏ทบ selama 10 malam hari terakhir di bulan Ramadhan selalu “mengencangkan gamisnya” sebagaimana diceritakan Aisyah radhiallahu anha dalam hadits berikut:

ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ู‚ุงู„ุช ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฅุฐุง ุฏุฎู„ ุงู„ุนุดุฑ ุดุฏ ู…ุฆุฒุฑู‡ ูˆุฃุญูŠุง ู„ูŠู„ู‡ ูˆุฃูŠู‚ุธ ุฃู‡ู„ู‡

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu anha, dikatakannya, โ€œNabi ๏ทบ ketika memasuki sepuluh hari terakhir โ€˜mengencangkan gamisnyaโ€™, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.โ€ (HR al-Bukhari).

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihi al-Bukhari (Dar Thibah, 2005) Jilid 5, Cetakan I, hal. 473, menjelaskan bahwa yang dimaksud “mengencangkan gamisnya” adalah memisahkan diri dari istri-istri beliau sebagaimana kutipan berikut:

ู€ (ุดุฏ ู…ุฆุฒุฑู‡) ุงูŠ ุงุนุชุฒู„ ุงู„ู†ุณุงุก

Artinya: “Mengencangkan gamisnya” artinya adalah memisahkan diri dari istri-istri beliau (tidak menggauli mereka).

Lalu apa yang beliau lakukan di malam-malam itu?

Berdasarkan pada hadits di atas, hal-hal yang beliau lakukan selama malam-malam 10 hari terkahir di bulan Ramadhan adalah menghidupkan malam-malam itu dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, khusunya i’tikaf guna menyambut datangnya laitul qadar. Hal ini sebagaimana diceritakan Aisyah radliyallahu anha dalam hadits berikut:

ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฒูˆุฌ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ูŠุนุชูƒู ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู† ุญุชู‰ ุชูˆูุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ุซู… ุงุนุชูƒู ุฃุฒูˆุงุฌู‡ ู…ู† ุจุนุฏู‡

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu anha – istri Nabi๏ทบ,โ€œSesungguhnya Rasulullah ๏ทบ melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau juga beri’tikaf setelah beliau wafat.โ€ (HR Bukhari).

Selain itu beliau juga membangunkan anggota keluarga beliau di tengah malam guna menghidupkan malam-malam itu dengan shalat malam, dan setelah Rasulullah wafat para istri beliau melanjutkan kebiasan iโ€™tikaf beliau.

Memang orang yang tidur saja di malam hari selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan tidak bisa disebut menghidupkan malam-malam itu. Hal ini juga berarti mereka tidak menyambut lailatul qadar yang nilai kebaikannya lebih dari 1.000 bulan itu.

Sumber :NU Online