KH Muhammad Dimyathi : Guru dari Segala Guru

0
21
KH Muhammad Habib (Gus Mamuk) saat menyampaikan manaqib KH Muhammad Dimyathi

KH Muhammad Dimyathi, yang akrab disapa sebagai Mbah Guru Dimyathi merupakan sosok sentral dalam sejarah Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan yang dikenal memiliki reputasi keilmuan yang tinggi sehingga mampu membawa Tremas ke masa keemasan.

Hal itu diungkapkan oleh Pengasuh KH Muhammad Habib, saat acara Haul Masyayikh yang digelar Kamis malam (03/07) di halaman Masjid Pondok Tremas Pacitan.

Gus Mamuk, sapaan akrabnya, menceritakan pengalamanya saat menyusun buku Sejarah Pondok Tremas dan Perkembanganya pada akhir tahun 1980an. Ia menyebut ada 27 kiai berpengaruh yang diwawancarai saat penyusunan buku itu untuk mengungkap bagaimana kepribadian KH Muhammad Dimyathi.

“Ada 27 kiai, mulai dari Banyuwangi Saya sowan Mbah Harun Darunnajah, Mbah Kiai Syafaat Blok Agung sampai ke Banten. 27 kiai saya sowani untuk mencari data tentang Simbah. Beliau ngendikane hampir sama, (KH Dimyathi ) adalah Guru dari segala guru. Guru dari segala guru Itulah Mbah Dim,” ungkap Gus Mamuk.

Pada masa KH Muhammad Dimyathi, Pondok Tremas telah dihuni oleh ribuan santri. Di bawah bimbingannya, lahir banyak ulama besar yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren berpengaruh di Indonesia.

“Salah satu alumni terkenalnya adalah KH Hamid Pasuruan yang menimba ilmu di Tremas pada era kepemimpinan Mbah Dim,” jelasnya.

Gus Mamuk menjelaskan, pengaruh keilmuan KH Muhammad Dimyathi telah melintasi batas negara.

“santri-santri beliau tidak hanya berasal dari jawa, tetapi juga tersebar hingga ke Mindanao (Filipina), Pataya (Thailand), Kashmir (India), serta wilayah Brunei, Malaysia, dan Singapura,” jelasnya.

KH Muhammad Dimyathi juga mewariskan teladan dan kedisiplinan. Kehidupan KH Dimyathi menjadi fondasi bagi tradisi kedisiplinan dan adab di Pondok Tremas.

“Misalnya, tradisi pembacaan Al-Barjanji setiap malam Jumat yang sudah masyhur sejak zaman ayahnya, KH Abdullah, terus diperkuat pada masa kepemimpinan Mbah Dim,” urainya.

KH Muhammad Dimyathi juga mewariskan karya tulis. Namun sangat disayangkan beberapa karya tulis Mbah Dim banyak yang hilang akibat bencana yang melanda Pondok Tremas.

“Meski beliau memiliki karya tulis, banyak dari kitab-kitab dan catatan beliau yang hancur atau hanyut akibat banjir bandang besar yang melanda wilayah Tremas pada tahun 1965 atau 1966,” tandasnya.