Rasulullah ๏ทบ selama 10 malam hari terakhir di bulan Ramadhan selalu “mengencangkan gamisnya” sebagaimana diceritakan Aisyah radhiallahu anha dalam hadits berikut:
ุนู ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถู ุงููู ุนููุง ูุงูุช ูุงู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฅุฐุง ุฏุฎู ุงูุนุดุฑ ุดุฏ ู ุฆุฒุฑู ูุฃุญูุง ูููู ูุฃููุธ ุฃููู
Artinya: Dari Aisyah radhiallahu anha, dikatakannya, โNabi ๏ทบ ketika memasuki sepuluh hari terakhir โmengencangkan gamisnyaโ, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.โ (HR al-Bukhari).
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihi al-Bukhari (Dar Thibah, 2005) Jilid 5, Cetakan I, hal. 473, menjelaskan bahwa yang dimaksud “mengencangkan gamisnya” adalah memisahkan diri dari istri-istri beliau sebagaimana kutipan berikut:
ู (ุดุฏ ู ุฆุฒุฑู) ุงู ุงุนุชุฒู ุงููุณุงุก
Artinya: “Mengencangkan gamisnya” artinya adalah memisahkan diri dari istri-istri beliau (tidak menggauli mereka).
Lalu apa yang beliau lakukan di malam-malam itu?
Berdasarkan pada hadits di atas, hal-hal yang beliau lakukan selama malam-malam 10 hari terkahir di bulan Ramadhan adalah menghidupkan malam-malam itu dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, khusunya i’tikaf guna menyambut datangnya laitul qadar. Hal ini sebagaimana diceritakan Aisyah radliyallahu anha dalam hadits berikut:
ุนู ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถู ุงููู ุนููุง ุฒูุฌ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ุฃู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ูุงู ูุนุชูู ุงูุนุดุฑ ุงูุฃูุงุฎุฑ ู ู ุฑู ุถุงู ุญุชู ุชููุงู ุงููู ุซู ุงุนุชูู ุฃุฒูุงุฌู ู ู ุจุนุฏู
Artinya: Dari Aisyah radhiallahu anha – istri Nabi๏ทบ,โSesungguhnya Rasulullah ๏ทบ melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau juga beri’tikaf setelah beliau wafat.โ (HR Bukhari).
Selain itu beliau juga membangunkan anggota keluarga beliau di tengah malam guna menghidupkan malam-malam itu dengan shalat malam, dan setelah Rasulullah wafat para istri beliau melanjutkan kebiasan iโtikaf beliau.
Memang orang yang tidur saja di malam hari selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan tidak bisa disebut menghidupkan malam-malam itu. Hal ini juga berarti mereka tidak menyambut lailatul qadar yang nilai kebaikannya lebih dari 1.000 bulan itu.
Sumber :NU Online

























