Kiai Luqman Ajak Mahasiswa PMII Teladani Pergerakan Rasulullah

0
1666

Pacitan – Pengasuh Pondok Tremas Pacitan KH Luqman Harits Dimyathi mengatakan, semangat pergerakan yang dilakukan oleh mahasiswa PMII perlu mencontoh nilai-nilai pergerakan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, yakni berhijrah (berpindah) dari ketidakadilan menuju terciptanya keadilan.

โ€œSebab pergerakan mahasiswa berkehendak untuk mendapatkan keadilan, memberikan advokasi kepada seluruh masyarakat. PMII lahir karena itu, bergerak untuk menegakkan sebuah keadilan,โ€ katanya dalam acara tasyakuran hari lahir (Harlah) ke-56 PMII di Gedung MUI Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Ahad (17/4) malam.

Dikatakan Kiai Luqman, Harlah PMII yang tahun ini bersamaan dengan bulan Rajab harus menjadi spirit bagi kalangan mahasiswa nahdliyin untuk lebih matang dalam berorganisasi. Semangat Miโ€™raj (Perjalanan nabi pada malam hari menuju ke langit) harus menjadi ruh pergerakan PMII. Sebab dalam konteks keadilan, katanya, terjadinya miโ€™raj merupakan wujud sifat adilnya Allah kepada langit atas keinginanya untuk dipertemukan dengan Rasulullah seperti layaknya bumi yang ditinggali oleh Rasulullah.

โ€œKita mengajak PMII untuk bermiโ€™raj, bukan israโ€™ lagi. Yakni menegakkan keadilan di nusantara ini, tentunya dibarengi dengan cara berorganisasi yang matangโ€ ujar Katib Syuriyah PBNU itu.

Di usianya yang ke-56 ini, PMII diminta terus menjadi organisasi pergerakan yang kritis dalam mengawal aspirasi masyarakat. Sebab, bentuk keadilan di Indonesia saat ini belum sepenuhnya ditegakkan.

โ€œPMII Pacitan walaupun secara kuantitas belum cukup besar, namun harus solid dan bisa memenangkan serta mengalahkan yang besar yang berantakan. Seperti halnya cabe rawit, kecil namun menggigit. Disegani oleh banyak orang,โ€ pungkasnya.

Tasyakuran Harlah PMII yang digelar dengan sederhana ini diisi dengan pembacaan tahlil yang ditujukan untuk Muassis (para pendiri) PMII, dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng oleh KH Luqman Harits yang diberikan kepada Ketua PMII Pacitan Sapto Pitoyo. Acara diakhiri dengan pembacaan doa oleh KH Abdullah Sadjad.

Sumber :NU Online