Ketika Kiai Ali Maksum Bernostalgia di Tremas

0
309
Foto Gus Mamuk, Mbah Ali, dan Iip Yahya.

Beberapa hari yang lalu Gus Mamuk, sapaan karib KH Muhammad Habib Dimyathi, berkirim kabar. “Mas Iip, tak kirimi foto khusus ya. Sampeyan mesti seneng.”

Tak berselang lama sebuah foto lawas dikirimkan. Masyaallah. Saya tak pernah menyangka bahwa ada dokumentasi saat kunjungan almagfurlah KH Ali Maksum ke Tremas. Gus Mamuk di sebelah kiri, Kiai Ali, dan saya. Tentu saja saya sangat senang melihatnya.

Ingatan saya langsung menelusuri peristiwa di foto tersebut. Lokasi foto ini di Pendopo NA, semacam tempat singgah untuk para tamu sebelum sowan kepada pengasuh. Di tempat ini juga disediakan televisi yang bisa ditonton oleh para santri pada jam tertentu. Tahun berapakah? Saya kira kunjungan itu saat saya masih duduk di bangku kelas 1 atau 2 Muallimin Atas, tahun 1988 atau 1989.

Seingat saya Mbah Ali masih menggunakan mobil legendarisnya, Colt L-300 berwarna kehijauan. Kendaraan yang menurutnya, tidak terlalu mewah kalau dibawa berkunjung ke kampung-kampung dan tidak memalukan kalau ke perkotaan. Mobil yang moderat. Kursi bagian tengahnya ditata sedemikian rupa sehingga beliau bisa selonjoran dan tidur sepanjang perjalanan sambil dipijat oleh santri yang mendampinginya.

Tentu saja kehadiran Wak Ali, semikian para Gawagis Tremas dahulu menyebutnya, disambut dengan suka cita. Beliau seperti bernostalgia, mengingat masa mudanya saat belajar di Tremas.

Setelah cukup beristirahat, beliau meminta diantar menemui santrinya yang tinggal di Mlati. Santri tersebut dikenal sangat cerdas saat mengaji di Krapyak. Akan tetapi ketika ia ditinggal adik yang sangat disayanginya, pikirannya menjadi terganggu. Sejak saat itu, ia menjadi sangat jarang berkomunikasi denga orang lain. Namun, ketika Kiai Ali berkunjung ke rumahnya, komunikasi antara kiai dan satri itu berlangsung akrab dan penuh ketakziman. Sanak familinya ikut heran menyaksikan peristiwa tersebut. Begitulah,  mahabbah antara kiai dan santri telah melampaui berbagai halangan fisik yang tampak. Saya melihat Kiai Ali sangat menyangi santrinya dari Mlati itu.

Tak banyak lagi yang saya ingat dari peristiwa puluhan tahun silam itu.

Alkisah, setelah mengaji kepada KH Dimyathi yang wafat pada tahun 1934, Gus Ali tak langsung pulang. Ia ikut mendampingi pengasuh muda KH Hamid Dimyathi antara tahun 1934-1938, sebelum ia melanjutkan studinya ke Hijaz.

Kecerdasan Gus Ali saat masih di Tremas dikenal oleh semua santri. Bahasa Arabnya sudah sangat bagus sebelum ia menginjakkan kakinya di Makkah. Ia memperkenalkan kitab-kitab baru dari Mesir yang menghebohkan, misalnya kitab Qira’ah Rasyidah, buku muthalaah sederhana yang bergambar. Bahkan ada gambar anjing di dalamnya. Secara ringkas, di Tremas saat itu tercipta iklim akademik yang hangat. Di antara para santri terjadi tukar-menukar ilmu pengetahuan.

Cerita dari KH Cholil Tasikmalaya, menarik untuk diingat kembali. Menurutnya, pada pertengahan 1930-an, bersama sejumlah santri dari Tasikmalaya, ia mengaji di Tremas. Pergi ke pesantren yang sangat terkenal pada waktu itu, tentu saja mereka sudah memiliki bekal ilmu dasar yang cukup.

“Saat itu saya sudah hafal Alfiyyah Ibnu Malik,” ujarnya.

Sesampainya di pesantren, ia bersua banyak santri yang juga sudah berbekal ilmu sebelum tiba di Tremas. Salah seorang yang memukaunya ialah santri senior bernama Gus Ali dari Lasem. Kholil menyampaikan keinginanya untuk mengaji khusus kepada Gus Ali. Keinginannya itu dipenuhi dan diberi tugas untuk sorogan kitab berjudul Al Hushunul Hamidiyah karya Sayyid Husain Afandi.

Pada waktu yang sudah disepakati, Kholil membaca kitab tersebut di hadapan Gus Ali. Ternyata kitab tersebut tak mudah dibaca dan terdapat banyak susunan lafazh/kalimat yang tidak biasa. Antara mubtada dan khobar kadang berjauhan, disela oleh kalimat penjelasan yang panjang. Bolak-balik bacaan Kholil disalahkan, disuruh mengulang, dan kalau sudah mentok, baru dibenarkan oleh Gus Ali. Kholil pun jadi penasaran dan sangat tertantang. Sebelum mengaji kepada Gus Ali, ia berusaha lebih keras agar bacaannya tepat dan lebih lancar.

Pada akhirnya kitab itu pun khatam dibacanya. Lalu dengan ringan Gus Ali berkomentar,

“Nah, kamu sekarang sudah bisa baca kitab. Jadi, besok nggak perlu lagi ngaji sama saya.”

Menurut catatan Gus Mamuk, Kiai Ali ikut mereformasi sistem pendidikan di Tremas bersama KH Hamid dan Sayyid Hasan.

Ikatan antara Tremas, Lasem dan Krapyak, ibarat tiga serangkai yang tak terpisahkan. Kiai Maksum Lasem, mengaji kepada Kiai Dimyathi Tremas . Kiai Hamid mengaji kepada Kiai Maksum. Kiai Ali juga mengaji kepada Kiai Dimyathi dan ikut mendampingi Kiai Hamid di masa awal kepengasuhannya di Tremas. Lalu stelah Kia Ali mukim di Krapyak, semua Gawagis Tremas mengaji kepadanya di Krapyak, mulai dari Kiai Habib, Gus Mamuk dan Gus Fuad. Begitu pula Kiai Harits dan Gus Luqman.

Melihat kembali foto saat Kiai Ali berkunjung ke Tremas ini, saya hanya bisa bersyukur. Berterima kasih kepada yang sudah menjepretkan kamera dan memasukkan saya satu frame dengan beliau. Sepanjang saya masih mengaji di Krapyak (1984-86) tidak ada satu pun foto saya bersama beliau. Terima kasih juga kepada Gus Mamuk yang sudah menyimpan baik foto ini dan berkenan mengirimkannya kepada saya