Gus Miftah: Mencintai Nabi dan Negara Tidak Perlu Dalil

0
1068

Tremas -KH. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah mengatakan 37 persen pelajar dan mahasiswa di Jawa Timur terpapar paham radikalisme dan intoleransi. Menurutnya, mayoritas penyebab tingginya radikalisme karena pengaruh media sosial.

โ€œSudah menjadi rahasia umum bahwa media sosial hari ini lebih banyak dikuasai sama kelompok sebelah (kelompok minhum),โ€ ujar Gus Miftah saat Orasi Kebangsaan pada acara Diba Akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, Jumโ€™at (07/10/2022) malam.

Ia menyampaikan, di zaman sekarang banyak beredar di media sosial dari kelompok wahabi yang mengatakan bahwa mencintai negara itu tidak ada dalilnya.

โ€œItu menurut mereka. Mereka itu siapa? Mereka adalah kelompok yang selalu mengatakan โ€˜saatnya kita kembali pada Al Qur’an, saatnya kita kembali kepada Al Hadistโ€™,โ€ jelasnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji Sleman Yogyakarta itu menjelaskan, kiai-kiai NU tidak pernah mengatakan kembali kepada Al Qur’an dan Al Hadist karena memang mereka tidak pernah meninggalkan Al-Qur’an dan Hadist.

โ€œMakanya nggak pernah kembali. Toh nggak pernah pergi. Yang mengatakan kembali berarti mereka selama ini pergi,โ€ tegasnya.

Menurutnya, mereka kelompok yang berteriak โ€˜nasionalisme tidak ada dalilnyaโ€™ itu aneh. Sementara mereka justru teriak pertama kali untuk membela Palestina ketika dibom oleh Israel.

โ€œLucunya apa? Untuk mencintai negaranya ia bertanya dalil. Tapi untuk mencintai negara Palestina dia tidak bertanya dalil,โ€ imbuhnya.

Lebih lanjut, Gus Miftah mengatakan peringatan Maulid Nabi hampir sama dengan mencintai tanah air. Keduanya tidak perlu ditanyakan dalilnya.

โ€œMemperingati Maulid Nabi tidak membutuhkan hadist yang shahih, tapi membutuhkan hati yang sholih. Maka saya bilang bagi mereka yang tidak suka maulid โ€˜cukup roqib dan atid yang menilai amalku, cangkemu ra usah melu-meluโ€™,โ€ jelasnya.

Dirinya menjelaskan, alasan mencintai negara Indonesia karena telah menjadi tanah kelahiran bagi penduduknya.

โ€œKenapa kita harus mencintai negara Indonesia? Karena kita lahir di Indonesia, besar di Indonesia, berjuang di Indonesia, mato dikuburkan di Indonesia. Maka kita mencintai Indonesia,โ€ pungkas Gus Miftah.

Redaktur: Zaenal Faizin