TREMAS | Pondoktremas.com – Di tengah derasnya arus modernitas, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan terus teguh berdiri sebagai benteng tradisi intelektual Islam klasik. Salah satu pilar utamanya adalah tradisi Tahfidzul Kutub atau menghafal kitab, sebuah disiplin yang disebut sebagai kunci menjaga kemurnian ilmu agama dari generasi ke generasi.
Pesan kuat ini ditegaskan oleh Ketua Majelis Ma’arif Pondok Tremas, KH. Luqman Haris Dimyathi (Gus Luqman), saat memberikan arahan dalam acara Haflah Attasyakur Lil Hifzhi Nazhom yang digelar pada Kamis (05/02/2026). Di hadapan ratusan santri, beliau mengingatkan bahwa menghafal bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan sebuah ikatan batin dengan para ulama terdahulu.
Gus Luqman menyadari bahwa proses menghafal bukanlah perkara mudah. Namun, kesulitan itulah yang menjadi pembeda antara penuntut ilmu sejati dengan mereka yang hanya mencari wawasan di permukaan. Beliau merujuk pada standar tinggi para ulama salaf yang tidak hanya hafal secara teks, namun juga meresapi esensinya.
“Hafalan apa pun, baik itu kitab, hadits, maupun Al-Qur’an, memang berat. Tapi dalam sejarahnya, ulama-ulama dulu itu hafalannya lafdhan wa ma’nan (secara lafal maupun makna),” dawuh Gus Luqman memberikan motivasi.
Beliau menjelaskan bahwa para ulama terdahulu sangat cerdas dalam mempermudah santri dalam menguasai ilmu. Berbagai disiplin ilmu, mulai dari Fikih melalui kitab Zubad hingga Nahwu lewat Alfiyah Ibnu Malik, disusun dalam bentuk nadhom (bait-bait syair).
“Rata-rata bait itu menggunakan Bahar Rojaz karena enak, simpel, gampang dihafalkan, dan gampang dipahami,” imbuh beliau.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Luqman secara khusus memuji kejeniusan Ibnu Malik. Meskipun berasal dari Spanyol (Eropa), karya monumentalnya tetap menjadi rujukan utama dunia pesantren karena ketelitiannya yang bersandar pada Al-Qur’an, khususnya Qira’ah Sab’ah dan Asyrah.
Kiai kharismatik ini juga menekankan prinsip fundamental kaum sarungan:“Kullul khoir man ittaba’as salaf, wa kullu syarrin man ibtada’al kholaf.” > (Segala kebaikan ada pada mereka yang mengikuti jejak ulama terdahulu, dan segala keburukan ada pada yang mengada-ada hal baru di masa kemudian).
Menutup arahannya, Gus Luqman berpesan agar para santri tidak merasa rendah diri di hadapan kemajuan gelar akademik modern. Baginya, setinggi apa pun gelar seseorang di era kholaf (masa kini), mereka tetap membutuhkan pondasi keilmuan salaf agar tidak tersesat dalam memahami agama.
“Percayalah Nak, semua kebaikan itu bagi orang yang mengikuti prinsip-prinsip kesalafiahan. Apa itu? Antara lain bait-bait (nadhom). Itulah peninggalan yang harus kita jaga,” pungkasnya dengan nada kebapakan.
Melalui acara Attasyakur ini, Pondok Tremas kembali menegaskan komitmennya: bahwa di lembah Tremas, ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi dihafal, dihayati, dan dijaga keberkahannya melalui jalur Ittaba’as Salaf.
























