Haflah Attasyakur Lil Hifzhi Nazhom: Menjaga Tradisi, Mengukir Prestasi di Bumi Tremas

0
13
Ratusan santri mengikuti Haflah Attasyakur Lil Hifzhi Nazhom di Pondok Tremas
Ratusan santri mengikuti Haflah Attasyakur Lil Hifzhi Nazhom di Pondok Tremas

TREMAS | pondoktremas.com – Gema selawat dan lantunan bait-bait nazhom kembali menggetarkan aula Perguruan Islam Pondok Tremas. Pada Kamis (05/02/2026), pondok pencetak ulama ini menyelenggarakan Haflah Attasyakur Lil Hifzhi Nazhom, sebuah momentum sakral sebagai bentuk apresiasi atas kegigihan para santri dalam menjaga tradisi hafalan bait-bait ilmu alat dan akidah.

Acara yang dihadiri langsung oleh jajaran Masyayikh, termasuk KH Luqman Haris Dimyathi, berlangsung penuh khidmat. Isak haru dan rasa syukur tampak menyelimuti wajah para santri dan wali santri yang hadir menyaksikan buah dari ketekunan muhafadzah (menghafal) selama satu tahun terakhir.

Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Tremas, Ustaz Moh. Mungid, dalam orasinya menyampaikan pesan mendalam yang memacu semangat. Beliau menekankan bahwa perpaduan ilmu dan akhlak adalah investasi abadi bagi seorang santri.

“Orang yang memiliki ilmu dan akhlak itu ibarat uang Rp100.000. Di mana pun ia berada, entah di tempat bersih atau kotor, tetap akan diambil dan dimanfaatkan orang lain. Tidak peduli di jalanan atau di tempat pembuangan sampah, nilainya tetap berharga,” tegas Ustaz Mungid.

Pesan ini menjadi penegas bagi para santri bahwa di mana pun mereka berkhidmat nantinya, kualitas diribukan fasilitas atau penampilan luarlah yang akan menentukan kebermanfaatan mereka di tengah umat.

Menghafal ribuan bait nazhom di tengah padatnya jadwal pengajian kitab kuning bukanlah perkara mudah. Namun, Ustaz Mungid mengingatkan pentingnya filosofi kerja keras melalui kaidah:

Fanshob fa inna ladzidzal ‘aisyi fin nashobi

(Berpayah-payahlah, karena manisnya hidup terasa setelah lelah bekerja).

Kepala Biro Institut Agama Islam (IAI) Attarmasi Pacitan tersebut menjelaskan bahwa proses menghafal bukan sekadar formalitas akademik, melainkan metode untuk “mengasah pedang” intelektualitas. Santri yang terbiasa menghafal akan memiliki daya nalar yang lebih tajam saat menghadapi disiplin ilmu yang lebih rumit di jenjang berikutnya.

Haflah ini ditutup dengan untaian doa dan salam hangat bagi para wisudawan. Bagi pondok, keberhasilan santri menuntaskan hafalan adalah bukti bahwa disiplin dan keberkahan ilmu masih terjaga kuat di bumi Tremas.

“Selamat bagi para santri yang telah diwisuda. Bagi yang belum, semoga tahun depan bisa lebih giat lagi. Santri harus luhur akhlaknya dan tinggi ilmunya,” pungkas Ustaz Mungid mengakhiri sambutannya.

Melalui agenda tahunan ini, Pondok Tremas kembali membuktikan komitmennya: melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga anggun dalam budi pekerti.