
TREMAS – Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas yang juga Penasihat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Jawa Timur, KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi, menegaskan bahwa program integrasi Sekolah dan Madrasah Diniyah (Madin) merupakan langkah strategis untuk memperkuat pondasi keagamaan generasi muda di Kabupaten Pacitan.
Hal tersebut disampaikan Gus Luqman dalam agenda Koordinasi Integrasi Sekolah Formal dan Madin jenjang SMP se-Kabupaten Pacitan yang bertempat di Musholla 2 Abad Pondok Tremas, Rabu (21/01/2026).
Menyelamatkan Literasi Al-Qur’an
Dalam arahannya, Gus Luqman mengungkapkan keprihatinan atas realitas masih ditemukannya mahasiswa yang belum mampu membaca dan menulis Al-Qur’an. Beliau menilai, fenomena ini adalah sinyal memudarnya nilai-nilai ke-Rasul-an dalam sistem pendidikan saat ini.
“Integrasi atau Al-Ittihad ini bukan sekadar penyatuan formal, melainkan harmonisasi demi kemaslahatan agar anak-anak kita, mulai dari SD hingga SMP, tidak lagi asing dengan kitab sucinya,” tutur putra KH Harits Dimyathi tersebut.
Mendidik dengan Jiwa Zaman
Mengutip kaidah pendidikan Islam yang masyhur, “Al-limu awladakum fainnahum makhluquuna lizamanin ghayri zamanikum” (didiklah anak-anakmu sesuai zamannya), Gus Luqman mengingatkan para pendidik untuk mampu beradaptasi dengan karakter Gen Z dan Gen Alpha. Beliau menekankan pentingnya kemandirian teknologi dalam proses pembelajaran dan administrasi.
“Zaman sudah berubah. Kita harus mengajar manusia sesuai kadar kemampuan akalnya. Termasuk dalam administrasi, kita harus mulai terbiasa dengan kemandirian digital,” imbuhnya di hadapan para pemangku kepentingan pendidikan.
Menghindari Kekerasan Fisik
Secara khusus, beliau memberikan peringatan keras terkait metode pendisiplinan. Gus Luqman mengimbau agar para guru meninggalkan metode kekerasan fisik yang dulu sempat lazim dilakukan. Selain sudah tidak relevan, tindakan tersebut sangat berisiko secara hukum.
“Jika sekarang masih menggunakan kekerasan fisik, risikonya sangat berat. Guru bisa dengan mudah dilaporkan ke polisi atau Reskrim,” tegas beliau sembari merujuk pada beberapa kasus hukum yang menimpa tenaga pendidik baru-baru ini.
Pondok Tremas Sebagai Mabes Perjuangan
Sebagai wujud komitmen total terhadap kemajuan pendidikan di Pacitan, Gus Luqman menjadikan Pondok Tremas sebagai Markas Besar (Mabes) pergerakan integrasi Madin. Menariknya, beliau menegaskan bahwa seluruh biaya pelaksanaan koordinasi di pesantren tersebut ditanggung secara pribadi sebagai bentuk khidmah kepada umat.
“Saya tidak ingin urusan administrasi menghambat semangat perjuangan kita. Ini murni pengabdian untuk memajukan FKDT dan masa depan pendidikan agama anak-anak kita,” pungkas Gus Luqman dengan semangat Lillahi Ta’ala.
Melalui sinergi ini, diharapkan muncul generasi yang tidak hanya mahir membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila dengan pondasi agama yang kokoh.
























