TREMAS, pondoktremas.com – Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas, KH Luqman Harist Dimyathi, memberikan pesan mendalam mengenai filosofi pendidikan dan pola interaksi ideal antara guru dan murid di lingkungan pesantren. Menurut kiai yang akrab disapa Gus Luqman ini, hubungan antara pengasuh dan santri bukanlah sekadar transfer ilmu satu arah, melainkan sebuah sinergi mulia untuk saling memberi dan menerima manfaat atau ifadah wal istifadah.
Titik temu interaksi eksklusif ini dapat ditemukan dalam setiap jengkal kegiatan di pondok, mulai dari bangku madrasah hingga majelis pengajian kitab. Gus Luqman menekankan bahwa keberkahan ilmu akan muncul ketika kedua belah pihak memiliki semangat untuk saling mengisi.
“Dalam tuntunan kitab Ta’lim Al-Muta’allim, santri dengan kyai itu saling mengisi. Bahasa kita, ta’lim-nya ifadah wal istifadah. Bahasa Inggrisnya itu kalau tidak keliru take and give. Jadi saling memberi dan diberi,” jelas Gus Luqman sebagaimana dikutip dari laman media sosial resmi pesantren, Jum’at (16/01/2026).
Filosofi Wazan Tafa’ala
Secara filosofis, beliau membedah hubungan ini melalui kaidah bahasa Arab. Gus Luqman menjelaskan bahwa hubungan kyai dan santri idealnya mengikuti pola (wazan) tafaa’ala. Dalam gramatika Arab, pola ini mengandung makna musyarakah atau timbal balik.
Hal ini menuntut adanya komunikasi dua arah dan sinergi yang kuat agar proses belajar-mengajar tidak terasa kaku, melainkan menjadi lebih hidup dan dinamis. Dengan pola ini, santri tidak hanya menjadi objek pasif, tetapi juga menjadi bagian penting yang menghidupkan suasana keilmuan.
Refleksi Sang Pengasuh: Guru adalah Pembelajar Abadi
Gus Luqman juga membagikan refleksi pribadi yang sangat menyentuh mengenai perannya sebagai pengajar. Beliau menegaskan bahwa seorang kyai sekalipun tidak pernah berhenti menempatkan diri sebagai seorang pembelajar.
“Saya ini mengajar, mengaji. Niat saya tidak hanya memberi ilmu, tapi saya juga belajar. Jadi, saat saya mengaji itu saya juga belajar di samping saya mengajar,” ungkapnya rendah hati.
Bagi beliau, semangat belajar ini merupakan ruh yang harus ada pada diri setiap kyai maupun santri. Kesadaran bahwa seorang guru juga terus belajar, sementara santri juga memberikan warna dalam proses pendidikan, diyakini akan menciptakan atmosfer pesantren yang penuh keberkahan dan kemajuan.
Melalui pesan ini, keluarga besar Perguruan Islam Pondok Tremas diingatkan kembali bahwa setiap proses thalabul ilmi adalah perjalanan panjang untuk saling menyempurnakan antara guru dan murid demi meraih ridha Allah SWT.

























