Kamis, September 09, 2010
   
Text Size

Pencarian

Jurnal

Pelopor Pengajian di Mesjid Azhar Mesir,ternyata orang Tremas…………….

Potret  hubungan antara  Indonesia dengan Mesir  trnyata sudah berjalan  lama,sekitar  abad ke -7,Wiliam James Perry ( 1868-1949 ) Dan Eliot menyebutkan;hubungan  yang telah terjalin lama antara kedua bangsa ,terlihat adanya persamaan dan kesamaan budaya.

Pada tahun 1860-an di Mesir telah di jumpai komunitas warga  Indonesia .Terbukti dengan keberadaan Riwaq Jawa ( komunitas)  di  mesjid Azhar sebagai  mana di tulis oleh  Alfred  Von Kremer dalam bukunya ,aegypten pada tahun 1863.

 

Prof.Dr. H. Musa Asy'arie

Profil Alumni Teladan ,banyak karya  dan berprestasi.
Prof.Dr. H. Musa Asy'arie adalah seorang filosuf, cendikiawan, budayawan, sekaligus seorang pengusaha. Ia adalah pencetus gagasan Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan
[Masa Muda
Musa Asy’arie dilahirkan pada tanggal 13 Desember 1951, di desa Pekajangan Pekalongan, sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship. Ia dibesarkan dalam lingkungan masyarakat pengusaha. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang, Ia melanjutkan ke SMPMuhammadiyah di Pekajangan, namun tidak sampai selesai. Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren Tremas Pacitan Jawa timur. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren, Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga.

 

KH Ali Maksum Krapyak: Perintis Pesantren Al-Quran di Indonesia

KH. Ali bin Maksum bin Ahmad dilahirkan di Lasem, kota tua di Jawa Tengah dari keluarga ulama keturunan Sayyid Abdurrahman alias Pangeran Kusumo bin Pangeran Ngalogo alias Pangeran Muhammad Syihabudin Sambu Digdadiningrat alias Mbah Sambu. Garis keturunan ini banyak melahirkan keluarga pesantren yang tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Masa muda beliau habiskan dengan berguru dari pesantren ke pesantren. Dimulai dari ayahnya sendiri yang juga seorang kyai ulama besar, beliau kemudian nyantri kepada Kyai Amir Pekalongan untuk kemudian melanjutkan kepada Kyai Dimyati Tremas Pacitan Jawa Timur. Sejak di Termas inilah beliau terlihat menonjol dan akhirnya ikut membantu gurunya mengajar dan mengurus madrasah pesantren dan membuat karangan tulisan.

   

Jejak Langkah Ulama Nusantara di Timur Tengah

Penulis benar-benar terkesiap ketika melihat mata rantai (sanad, silsilah) mufti agung Mesir, Dr. Ali Gum'ah, yang meriwayatkan kitab Hâsyiah Jawharah al-Tawhîd (karangan Syaikh Ibrahim al-Bayjuri) dari seorang ulama Nusantara asal Padang, yaitu Syaikh Muhammad Yasin ibn 'Isa al-Fadani (Yasin Padang).

 

Semasa belajar di pesantren dulu, mata rantai beberapa kitab yang di 'aos' oleh penulis juga menyambung kepada Syaikh Yasin Padang. Urutannya demikian: penulis; KH. Abdullah Kafabihi Mahrus (murabbi penulis);KH. Mahrus 'Ali Lirboyo;Syaikh Yasin Padang. Berangkat dari pertemuan mata rantai inilah, jejaring dan jejak ulama Nusantara di Timur Tengah serta pengaruhnya di Tanah Air menjadi menarik untuk dianalisa dan dikaji lebih jauh.

 

Prof Dr K Yudian Wahyudi Dari Santri jadi Guru Besar di AS

Yudian Wahyudi adalah dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat. Hal itu diperolehnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors serta dipercaya mengajar di Tufts University, Amerika Serikat (AS).

Keberhasilannya menjadi guru besar dan mengajar di salah satu universitas ternama di AS, telah mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan Islam. Yudian adalah alumnus santri di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur.

Kini, Yudian menerbitkan perjalanan kisahnya dalam buku Jihad Ilmiah dan mendirikan pesantren Nawesea, yaitu pesantren khusus bagi mahasiswa pascasarjana. Ia mengharapkan buku dan pesantrennya menjadi jalan untuk menuju kesuksesan di negeri Barat.

Berikut perjuangan, pengalaman, dan obsesi Yudian Wahyudi dipaparkan kepada Heri Purwata, wartawan Republika di ruang kerjanya, Rabu (25/3).
   

Halaman 1 dari 2

Login Form