Kamis, September 09, 2010
   
Text Size

Pencarian

Mimbar

HAL HAL YANG DI BOLEHKAN DALAM SHALAT

1.            Menangis, baik yang demikian karena takut kepada Allah SWT. Ataupun suatu hal yang lain, asal saja yang demian itu terjadi dari tekanan yang tidak dapat ditolak.

Diberitahukan oleh Abdullh bin syikhir, berkata;

’Saya lihat Rasulullah SAW. Bershalat, sedang terisak-isak seperti suara kuali yang sedang mendidih lantaran menangis.’[1]

Umar bin khaththab ra. Pernah bershalat shubuh dengan membaca surat yusuf. Diketika  bacaan sampai pada;’’ Sesungguhnya aku adukan keluhanku dan kegundahanku kepada Allah.’’{HR. Al Bukhari }.

Perbuatan Umar memberi  pengertian, sesungguhnya menangis dalam shalat tidaklah membatalkan shalat .

 

Kutitip Surat Ini Untukmu

Diketik ulang dari buku ‘Kutitip Surat Ini Untukmu’ karya Ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua, akan pentingnya seorang "IBU".

Assalamu’alaikum,


Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!

Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!

Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!?

Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu . Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.

Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu

Bookmark with:

Facebook   
 

Belajar Dari Kearifan Para Sufi

Maaf bila cerita ini kedengaran kuno dan membosankan. Seorang teman pernah berkomentar, ” Sudahlah, tak usah kau ceritakan lagi, bosan mendengarnya”. Ada juga yang bilang, ” Apa tidak ada cerita yang lebih baru ?”. Tapi tidak sedikit yang menginginkan cerita ini dikemas lebih menarik agar tetap diminati dan bisa memberi kesadaran baru bagi si pembaca.

Walau cerita ini diadaptasi dari sumber-sumber sekunder, seperti buku cakrawala sufi 1 ( Anand Krishna), tetap tidak mengurangi esensi dari cerita itu sendiri dan tetap memiliki cita rasa beda, sebagaimana cerita sufi pada umumnya, yang tak ubahnya seperti oase di padang sahara, mampu memberi gairah baru menuju penemuan diri, kesadaran diri dalam memaknai hakekat hidup.

Sang Bunga Mawar.

Diantara sekian banyak tokoh sufi, Syaikh Abdul Qadir Jailani barangkali yang paling akrab dengan dengan indra pendengaran kita. Suatu ketika, saat beliau hendak berkunjung ke kota Baghdad, segenap penduduk kota itu dihinggapi rasa cemas. Sebagai kota yang dikenal banyak dihuni para cendekiawan, Ulama dan Ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, kedatangannya jelas tak dibutuhkan. Anggapan ini muncul karena ketakutan yang berlebihan, bahwa kehadirannya akan menjadi pesaing bagi mereka.

Atas desakan ilmuwan dan agamawan, pemegang otoritas kota kemudian mengutus seorang kurir untuk mengantarkan cawan berisi air agar disampaikan kepada Syaikh Abdul Qadir yang masih berada di luar kota. Cawan berisi air itu sebagai tanda bahwa kota Baghdad sudah penuh sesak dengan para ilmuwan dan tokoh agama hingga kehadirannya tidak dibutuhkan.

Beliau paham betul pesan di balik secawan air yang dikirim kepadanya. Ia kemudian mengambil setangkai  setangkai bunga mawar dan meletakkannya di atas air, seraya meminta si kurirmembawa kembali cawan itu. ” Tolong kembalikan cawan ini kepada mereka yang mengutusmu kemari”. Demikian pesan Syaikh kepada si kurir

Sesampai di kota, para cendekiawan dan pemuka agama dibuat terkejut melihat si kurir membawa kembali  cawan tersebut. Menyaksikan keelokan bunga mawar di atas cawan dan harum wangi yang dibawanya, membuat mereka sadar bahwa kehadiran seorang bijak bagai bunga mawar yang tak akan membebani siapapun. Kebijakan seorang sufi justru menawarkan kegairahan dan kesegaran baru, bagai air yang tak lagi tawar karena aroma mawar di atasnya.

Bekerja Tanpa Pamrih.

Cerita ini cukup populer di dunia sufistik. Dalam sebuah perjalan sebuah inspeksi ke beberapa daerah, seorang khalifah sebuah negri melihat seorang petani tua sedang menyirami tanaman anggur di kebunnya. Sang khalifah kemudian menghampiri si petani dan menegur, ” Tahukah bapak, bahwa jenis anggur yang bapak tanam adalah jenis anggur yang khas dan langka serta tidak akan berbuah sebelum usia di atas 6 tahun”. Si petani menjawab, ” Benar paduka. Jenis anggur ini memang lama berbuahnya, bahkan bisa sampai 7 tahun baru berbuah”. ” Dan kau tetap tanam?”, tanya khalifah heran. ” Ya paduka, karena jenis ini adalah jenis anggur terbaik”, jawab si petani.

Khalifah kemudian turun dari kuda menghampiri petani sambil menepuk pundaknya dan mengatakan, ” Temanku, Maha Besar Allah. Semoga Allah menganugerahimu usia panjang. Karena bagaimanapun, bisa jadi lusa kita tak pernah lagi bertemu. Jadi, apa sebenarnya yang membuat bapak tetap menanam anggur yang belum tentu bapak nikmati?”.

“Paduka, memang benar adanya. Mungkin saya tak akan menikmati hasil tanaman ini. Bisa jadi saat tanaman ini berbuah saya sudah meninggal. Namun kematian saya tidak berarti berakhirnya kehidupan dunia ini.. Anak cucu saya, tetangga dan teman-teman saya, diantara mereka pasti ada yang masih hidup. Kelak merekalah yang akan menikmati hasilnya”. Demikian penjelasan petani kepada sang khalifah.

Sang khalifah terharu.” Maha Besar Allah. Kau berhati mulia. Kau melakukan sesuatu tidak untuk dirimu sendiri. Kau bekerja tanpa pamrih. Teman, kelak jika tanaman ini berbuah dan kita masih hidup, bawakan saya sekeranjang hasil tanamanmu, sebagai saksi persahabatan kita ini”. Begitu khalifah menutup perjumpaannya dengan si petani tua itu dan pergi melanjutkan perjalanan.

Konon beberapa tahun kemudian, tanaman anggur itu berbuah. Petani itu kemudian menyiapkan sekeranjang anggur untuk sang khalifah, sebagaimana permintaannya dulu. Diceritakan oleh para ahli hikmah, khalifah sangat menghargai ketulusan jiwa petani itu. Ia sangat mengagumi kedermawanan dan perbuatannya yang tanpa pamrih. Setelah memindahkan anggur ke wadah yang terbuat dari emas, beliau memerintahkan kepada mentrinya untuk mengisi keranjang itu dengan emas permata dan memberikannya kepada si petani, sebagai imbalan atas kebaikannya yang memberi inspirasi bagi sebuah keteladanan yang patut ditiru.

Sementara itu, cerita ini tersebar ke seantero negri dengan berbagai macam versi. Bahkan beredar cerita bahwa khalifah sangat menyukai jenis anggur yang dihadiahkan kepadanya, hingga berani membayar mahal.

Seorang petani lain, yang kebetulan mendengar cerita versi terakhir, langsung menyiapkan sekeranjang anggur jenis yang sama untuk dihadiahkan kepada khalifah. Dan sudah tentu, dengan harapan ia akan mendapatkan  seperti apa yang telah didapat petani tua itu. Sayang, ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Khalifah memahami kekecewaan si petani dan berkata,”Petani tua itu bekerja tanpa pamrih. Kedatangannya kemari juga tanpa harapan apapun. Ia menghadiahkan anggur itu kepada saya. Kamu lain. Kamu kesini dengan harapan. Kamu berdagang dengan saya. Itulah letak perbedaannya. Namun demikian, saya tetap hargai lebih apa yang kau bawa. Janganlah mengharap imbalan yang sama dengan petani tua itu. Kamu belum, memiliki jiwa dan semangat bekerja tanpa pamrih”.
[pindahan dari web lama - terimakasih pada penulis sebenernya]

Bookmark with:

Facebook   
   

Mengapa kitab madzhab Syafi’i menyebut ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukum?

“KH. Bisri Musthofa menjawab”dicuplik dari buku ” dicuplik dari buku Apa, Bagaimana dan Siapa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah”

Berdasarkan hadits:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى

Maka landasan hukum di dalam Islam itu hanya dua, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Mengapa di dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i ada dua masukan sebagai landasan hukum, ijma’ dan qiyas?

Kalau menurut prinsip dari pendirian golongan syi’ah, memang ijma’ dan qiyas itu tidak dapat digunakan sebagai landasan Hukum. Akan tetapi bagi madzhab Syafi’i dan juga madzhab mu’tabar yang lain, menggunakan ijma’ dan qiyas sebagai landasan hukum itu, tidak menyimpang dari Al-Qur’an dan Hadits, sebab Al-Qur’an dan Hadits sendiri juga memerintahkan supaya kita menggunakan Ijma’ dan Qiyas. Kami persilahkan baca Al-Qur’an ayat 115 di dalam surat An-Nisa’:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ اْلهَدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ اْلمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا.

Barang siapa menentang Rasul sesudah terang petunjuk baginya dan menuruti selain jalannya ornag-orang mu’min, maka Allah membiarkan akan dia bersama apa yang dia sukai, dan Allah akan memasukkan dia di dalam neraka jahannam, sejelek-jelek tempat kembali.

Hadits Shohihain:

لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَتِى ظَاهِرِيْنَ عَلىَ اْلحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ خِلاَفُ مَنْ خَالَفَهُمْ.

Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku, selalu terang-terangan bersama-sama membela hak (kebenaran), tidak mempengaruhi mereka tentangan orang-orang yang menentang kepadanya.

Kami persilahkan baca ayat surat Al-Hasyr:

فَاعْتَبِرُوْا يَا اُولِى اْلأَبْصَارِ

Maka ambil contohlah engkau, hai orang-orang yang mempunyai pengertian.

Surat Amirul Mu’minin Umar bin Khottob yang ditujukan kepada Abi Musa Al-Asy’ari:

َالْفَهْمَ اَلْفَهْمَ فِيْمَا اَدَّى إِلَيْكَ مِمَّا لَيْسَ فِى قُرْآنٍ وَلاَ فِى سُنَّةٍ، ثُمَّ قِسِ اْلأُمُوْرَ عِنْدَ ذَلِكَ

Pahamilah! Pahamilah! Di dalam apa yang datang kepadamu, daripada yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan sunah Rasul, kemudian kiaskanlah perkara-perkara itu ketika perkara-perkara itu tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits.
 
[pindahan dari web lama - terimakasih pada penulis sebenernya] 

Bookmark with:

Facebook   
 

Hakikat Cinta

Sayyidah Aisyah Ra, yang termasuk salah satu Ummul Mu’minin ternyata pernah mempunyai rasa cemburu juga, dikisahkan dalam sebuah atsar, bahwa pada suatu hari Beliau sudah tidak dapat menahan rasa cemburunya lagi atas salah satu sikap Rosululloh SAW. selama ini, maka beliau memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Rosululloh SAW, dihadapanmu kini telah ada aku istrimu yang masih muda dan cantik jelita, tapi mengapa setiap kali kita akan makan bersama, selalu saja aku harus menyediakan 3 piring, 2 piring untuk kita berdua, dan sepiring lagi disedekahkan yang pahalanya untuk almarhumah Sayyidah Khadijah RA, kenapa wanita tua yang telah tiada itu selalu Engkau kenang dihadapanku, tiada cukupkah diriku bagi Engkau ya Rosul SAW?”

Maka dengan bijak Rosul SAW menjawab, “Ya Khumaeroo (panggilan sayang Rosululloh SAW. khusus untuk Aisyah RA) adakah aku bisa melupakan, sesosok wanita keibuan, yang menyelimutiku dikala aku kedinginan, mengimaniku dikala semua orang mengingkari, melindungiku saat semua kaum kafir memerangi, mendampingiku disaat semua orang menjauhi dan bahkan mengorbankan segala apa yang dimilikinya untukku, demi berjuang di jalan Alloh?” -au kama qol.

Begitullah Rosulullah SAW, beliau telah mengajarkan kepada kita apa arti kekuatan cinta yang sesungguhnya, jauh sebelum Celine Dion melantunkan bait demi bait The Power Of Love yang terkenal itu dengan lengkingannya yang khas, juga derai suara merdu mendayu Richard Marx meresapi syair Now and Forever.

Tanpa banyak penjelasan, kiranya sekelumit cerita diatas sudah cukup menjadi pelajaran buat kita akan hakekat cinta yang sebenarnya, bahwa mencintai itu bermakna menyelimuti dikala kedinginan, mempercayai disaat semua orang mengingkari, melindungi disaat semua orang memusuhi, dan mengorbankan semua yang dimiliki demi sang kekasih yang sangat dicintai, yang bila kita cermati, tidak ada kata meminta, menuntut atau apapun jenisnya kita temukan disana.

Sementara itu sekitar seribu tigaratus tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1915 pagi hari, Edith Cavell, juru rawat Inggris yang namanya kini telah diabadikan pada sebuah gunung api yang paling indah di Canada, tengah menghadapi regu tembak tentara Jerman karena dianggap bersalah. Ia dengan sengaja menyembunyikan, memberi makan, dan merawat tentara Inggris dan Perancis yang terluka dirumahnya di Brussel, Belgia dan kemudian menyeludupkannya ke Belanda.

Ketika pendeta mendatangi selnya untuk memberikan sakramen terakhir dan mempersiapkan kematianya, ia hanya berkata: “Saya sadar bahwa patriotisme saja tidaklah cukup. Saya tidak boleh membenci siapapun. Saya tidak boleh mendendam siapapun”

Begitulah, dalam hidup ini patriotisme, atau rasa cinta saja tidaklah cukup, disampingnya masih harus ada banyak penjabaran, pemikiran, pertimbangan atau apapun kita menyebutnya, yang sudah seharusnya dilandasi dengan taqwa sebagai manifestasi dari pada keimanan dan akal jernih dalam kedewasaan.

Senada dengan hal ini, pada sekitar tahun sembilan puluhan seorang penyanyi cantik Amerika bernama Petty Smith bersama Don Henley, melantunkan sebuah lagu syahdu yang kalau saya tidak salah ingat berjudul Sometimes love just ain’t enough . Dalam lagu itu, dengan suaranya yang merdu mendayu ia menyatakan kepada siapa saja -wa bil khusus kekasihnya- bahwa cinta memang sangat dibutuhkan untuk tumbuh didada, namun disisi lain pada saat yang sama (dengan tanpa bermaksud untuk bersikap materialistis) ia mengemukakan dengan jujur bahwa terkadang cinta saja tidak cukup karena hidup juga butuh makan.

Pada akhirnya, saling mencinta saja, bukanlah suatu jaminan untuk merasakan saling berbahagia, untuk kebahagiaan selalu ada perbuatan pilihan yang terkadang amat pribadi. Untuk cinta, sebagaimana halnya kepercayaan, tidak ada pilihan lain kecuali percaya atau tidak percaya, cinta atau tidak cinta.

Sampai disini aku jadi teringat Louisa May Alcott sang penulis besar itu pernah berkata dalam salah satu bukunya, “Sometimes a man (woman) love with a women (man), but happy with another”

Suatu hari diambang penghabisan Ramadhan satuempat duatuju
terlantun merdu mengiringi rasa rinduku
tuk seraut wajah ayu nan selalu tersenyum di hatiku
yang karena Alloh kubisik padanya syahdu
aku mencintaimu

e_dhiem@z

Bookmark with:

Facebook   
   

Login Form