Sedekah dan Keteladanan Rasulullah Saw.

0
587
Indahnya berbagi di bulan suci yang penuh berkah. (Pic. Yusuf Ar Rifai).

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.

Diantara amal ibadah yang sangat dianjurkan dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak sedekah. Dan sedekah yang dilakukan di bulan suci ramadhan adalah sedekah yang paling utama sebagaimana sabda Rasulullah saw.

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Dari Anas r.a, dikatakan: “wahai Rasulullah s.a.w, shadaqah apa yang nilainya paling utama?” Nabi s.a.w, menjawab: “Shadaqah di dalam bulan Ramadhan” (Hadit Shahih, riwayat al-Tirmidzi).

Apalagi jika shadaqah itu berupa makanan yang ditasharufkan (dipergunakan) untuk berbuka puasa. Maka pahala orang yang memberikan makan tersebut seperti pahala orang yang berpuasa. Demikian keterangan rasulullah saw.

مَنْ اَفْطَرَ صَائِمًا فَلَهُ اَجْرُ صَائِمٍ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

Siapa yang memberi makanan orang yang sedang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut. (Hadits Shahih, riwayat al-Tirmidzi).

 

Larangan Kikir dan Pelit

Berbagi pada hakikatnya tidak mengurangi harta yang kita miliki. Bahkan dengan berbagi, rezeki yang kita peroleh akan selalu bertambah. Salah satu keutamaan yang ada dalam sedekah adalah akan menjadikan hidup menjadi berkah, karena dengan bersedekah kita tidak akan merasa kekurangan apalagi sampai menjadi miskin.

Bagi orang yang mempunyai kelebihan harta, bisa bersedekah dengan hartanya, begitu pun untuk tenaga, pikiran, atau jabatan. Jika tidak mampu bersedekah dengan ketiganya, kita bisa bersedekah cukup dengan tersenyum, lemah lembut dalam bertutur kata dan juga dalam bersikap.

Tidak sepantasnya seorang mukmin berbuat bakhil atau pelit. Karena sifat bakhil atau pelit adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat ke 180:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180).

 

Terhapusnya riba oleh sedekah

Allah sengaja menyimpan beribu rahasia di balik indahnya bersedekah. Mulai dari harta yang tidak akan berkurang hingga ibadah para Nabi yang dapat diimbangi oleh pahala sedekah.

Dalam bersedekah, kita berarti sudah menghapuskan riba dari harta yang selama ini kita kumpulkan. Karena masih ada hak-hak orang yang fakir dan miskin yang harus kita berikan kepada mereka. Maka secara otomatis riba tadi akah terhapuskan oleh sedekah. Pada dasarnya bersedekah itu adalah bertambah dan semakin bertambah.

Jika dianalogikan, riba itu seperti membangun sebuah piramid di atas lautan. Kenapa demikian? Ketika piramida itu selesai dibangun, akan langsung ambruk dalam arti bahwa usaha yang dibangun di atas pondasi riba tidak dapat memberikan keberkahan dalam hidup.

Dengan sedekah kita bisa mensyiarkan Islam dan membangun kesejahteraan umat yang dalam hal ini sangat sesuai dengan salah satu maqashid as-syar’iyyah, yaitu menjaga kelestarian harta melalui sedekah.

 

Point Penting dalam Bersedekah

Diceritakan bahwasanya tatkala Nabi Ibrahim as. telah selesai membangun Ka’bah, beliau shalat di setiap pojok bangunan Ka’bah sebanyak sepuluh rakaat. Kemudian Allah mendatangkan wahyu, “wahai Ibrahim, alangkah indahnya amal yang telah engkau lakukan! Akan tetapi, sesuap makanan yang engkau berikan kepada orang yang lapar lebih baik daripada semua itu.”

Dari redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hizam di atas, setidaknya ada lima poin penting yang berhubungan erat dengan bersedekah.

Pertama, tangan para pemberi

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Hadits ini sudah menjadi peribahasa yang tidak asing lagi kita dengar sehari-hari di masyarakat. Peribahasa yang menerangkan tentang keutamaan orang yang memberi ketimbang orang yang menerima. Keutamaan sedekah bisa dilihat ketika Rasulullah menyebutkan tujuh orang yang berada di naungan Allah tatkala tiada naungan lagi selain naungan-Nya. Beliau menyebutkan salah satunya bahwa orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, diibaratkan tangan kiri jangan sampai tahu apa yang telah diperbuat oleh tangan kanan.

Beberapa ulama berbeda pendapat dalam mentafsirkan kalimat dalam hadits di atas adalah orang yang menjaga harga dirinya dengan tidak meminta-minta. Sebagian lagi berpendapat, bahwa tangan di atas adalah orang yang menerima pemberian tanpa meminta-minta sebelumnya. Namun pendapat yang paling kuat adalah orang yang memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah sebelumnya.

Kedua, sedekahlah kepada keluargamu

Rasulullah meneruskan hadits-Nya dengan kalimat “mulailah dari orang yang kamu nafkahi.” Hal itu berarti, kita harus mendahulukan perkara yang wajib dalam menafkahi keluarga maupun kerabat. Kemudian apabila keluarga sudah terpenuhi hak-haknya, maka sedekah boleh diberikan kepada orang lain.

Diceritakan tatkala Zainab isteri Ibnu Mas’ud mendatangi Rasulullah Saw, Ia berkata, “Wahai Nabiullah, hari ini engkau telah memerintahkan kami untuk bersedekah. Dan sesungguhnya kini aku memiliki perhiasan. Kemudian aku ingin menyedekahkannya. Sementara Ibnu Mas’ud beranggapan ia dan anaknya paling berhak mendapatkan sedekah itu.” Rasulullah menjawab, “Ibnu Mas’ud benar. Suamimu dan anakmu adalah orang yang paling berhak mendapatkan sedekah itu.”

Dalam hadits lain, Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang memberikan sedekah kepada orang lain sementara dia mengetahui bahwa keluarganya lebih membutuhkan, maka hal itu termasuk hal-hal yang melampaui batas.

Ketiga, jangan habiskan hartamu

Sedekah memang indah. Pahala yang didapatkan tidak perlu diragukan lagi. Namun, Rasulullah menjelaskan bahwa sedekah yang baik adalah yang tidak menghabiskan hartanya. Sededah tersebut masih menyisihkan harta setidaknya para keluarga masih bisa mendapatkan hak nafkah yang harus mereka dapatkan.

Akan tetapi hal itu tidak mencegah seseorang untuk banyak bersedekah. Dalam beberapa gambaran, bersedekah hingga menghabiskan harta diperbolehkan. Contohnya apabila orang yang bersedekah rela dan ikhlas dengan semua harta yang ia keluarkan. Seperti Abu Bakar As-Shidiq yang tak segan-segan menghabiskan seluruh hartanya untuk kepentingan perjuangan agama. Atau apabila semua keluarganya rela jika seluruh hartanya disedekahkan, maka tidak menjadi permasalahan. Di sini Islam juga sangat mempertimbangkan antara kebutuhan sedekah dengan aspek social dan keluarga.Tergantung mana dahulu yang perlu diutamakan.

Keempat, menjaga diri

Harga diri yang dimaksud adalah saat seseorang mengurungkan niatnya untuk meminta-minta kepada orang lain meskipun dalam keadaan yang sangat memerlukan bantuan. Maka tidak seharusnya bagi orang yang miskin mengharap-harap pemberian orang lain, sementara ia tidak berusaha mencari nafkah yang halal dengan usahanya sendiri. Padahal, ketika Rasulullah ditanyai tentang pekerjaan yang paling utama, beliau menjawab, “Amal yang dilakukan oleh seseorang dengan tangan (kemampuan)nya sendiri, dan semua transaksi yang sah.”

Sungguh tidak benar apabila seseorang menjadikan kegiatan meminta-minta sebagai profesi dan mata pencahariannya. Ini yang menjadi permasalahan bangsa kita yang tak kunjung usai. Banyak orang yang rela pergi dari kampungnya hanya untuk menjadi pengemis di kota-kota, ini sangat memalukan dan sama sekali tidak etis. Hal tersebut akan melahirkan rasa ketergantungan atas pemberian orang lain dan mengurangi rasa percaya diri kepada Dzat Yang Maha pemberi rezeki. Rasulullah pernah bersabda bahwa apabila seseorang menghabiskan kehidupannya di dunia hanya untuk meminta-minta, maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan tanpa ada segumpal daging pun di wajahnya.

Kelima, selalu merasa cukup

Semua rezeki yang ada di tangan makhluk sudah ditentukan jauh sebelum segalanya diciptakan. Entah rezeki itu banyak maupun sedikit, itu semua adalah kehendak Allah. Kita sama sekali tidak patut membantah atau mengeluh akan segala takdir yang telah ditentukan-Nya.

Kebahagiaan manusia tidak tergantung akan banyak atau sedikitnya harta yang ia miliki. Para ulama terdahulu menjalani kehidupan yang bahagia tidak dengan harta yang banyak. Bahkan, Rasulullah sendiri menerapkan hidup sederhana hingga akhir hayat-Nya sebagai contoh dan keteladanan bagi umat-Nya dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam bisshawab. (yusufarifai.blogspot.co.id).

Komentar Anda