Belajar dari Ketekunan Mengaji Kiai Harits Dimyathi

0
391

Apabila ada ahli sejarah islam, penulis produktif, pembaharu sistem dan manajemen pendidikan Pondok Tremas, dan Kiai yang seluruh waktunya tersita untuk memperdalam kitab, beliau adalah KH Harits Dimyathi.

Kiai Harits lahir pada tahun 1932, merupakan putera bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya KH Dimyathi Abdullah dan ibunya Nyai Khotijah. Lahir dan besar dalam lingkungan pesantren. Hidup di bawah bimbingan dan pengawasan orang-orang alim. Agaknya inilah yang menyebabkan kepribadian Kiai Harits tumbuh menjadi orang alim.

Pada tahun 1939 melanjutkan belajarnya ke Madrasah Salafiyah Kauman Surakarta dibawah asuhan KH Dimyathi Abdul Karim sampai kurang lebih tahun 1942. Dan semasa pemerintahan penjajah Jepang Kiai Harits Dimyathi kembali ke Tremas sampai tahun 1945. Dan kemudian melanjutkan lagi ke Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dibawah asuhan KH Ali Ma’sum sampai kurang lebih tahun 1952.

Dibawah bimbingan guru besarnya ini, ketekunan Kiai Harits Dimyathi dalam belajar semakin besar. Dalam waktu singkat kitab-kitab klasik telah dikuasai dengan baik. Seluruh waktunya hanya digunakan untuk belajar semata. Maklum, tanggungjawab yang akan dipukulnya kedepan semakin berat. Apalagi sebagai putra Kiai Dimyathi Abdullah yang kesohor kealimanya itu.

Hingga beberapa waktu kemudian Kiai Harits Dimyathi mengikuti jejak kakaknya, Kiai Habib Dimyathi kembali ke Tremas untuk membina dan membangun kembali Pondok Tremas sebelumnya sempat vakum, karena kakaknya yang menjadi pengasuh saat itu, Kiai Hamid Dimyathi dibunuh oleh PKI pada peristiwa Affair Madiun tahun 1948.

Awal-awal menetap di Pondok Tremas, Kiai Harits Dimyathi tidak tinggal di kediamanya, melainkan tinggal di asrama santri. Kiai Harits memilih tinggal bersama para santrinya tak lain untuk mempermudah dalam mendidik dan menagawasi para santri secara langsung.

Konon, Kiai Harits Dimyathi termasuk salah seorang pengasuh yang melakukan tirakat “Nahun”. Kiai Harits tetap tinggal di asrama santri dan sama sekali tidak pulang ke kediamanya selama tiga tahun, tiga  bulan, dan tiga hari. Padahal kediamanya selalu terlihat setiap hari dan hanya berjarak lima puluh meter dari asrama santri. Inilah salah satu bentuk ketekunan belajar Kiai Harits.

Kiai Harits Dimyathi memimpin Pondok Tremas bersama dengan sesepuh yang lain. Kiai Harits berbagi tugas bersama dengan kakaknya, Kiai Habib Dimyathi dan Kiai Hasyim Ihsan, yang masih kerabat dekatnya. Kiai Habib Dimyathi bertugas sebagai pimpinan pesantren, Kiai Harits Dimyathi bertugas sebagai Ketua Malis Ma’arif yang mengurusi jalanya pendidikan dan pengajaran di Pondok Tremas, sedangkan  Kiai Hasyim Ihsan bertugas menangani bidang sosial kemasyarakatan. Pembagian tugas ini ternyata menjadikan perjalanan pesantren Tremas menjadi lebih kuat dan terarah.

Pondok Tremas pasca kemerdekaan menghadapi tantangan yang  berat, khususnya disebabkan ekspansi sistem pendidikan umum dan madrasah modern. Oleh karena itu, setelah melalui proses perenungan dan musyawarah antar pengasuh Tremas, maka dibukalah kembali Madrasah yang pernah berdiri.

Tahun 1952 merupakan tonggak pembaharuan pendidikan di Pondok Tremas. Kiai Harits Dimyathi banyak melakukan penataan dalam sistem dan manajemen pendidikan di Madrasah yang diasuhnya. Salah satunya dengan menyusun kurikulum dan membuat jadwal pelajaran di Madrasah.

Semangat pembaharuan pendidikan di Pondok Tremas mulai tiupkan oleh Kiai Harits. dan ternyata mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena pembaharuan yang diterapkannya sama sekali tidak mengancam keberadaan pesantren berikut segala pranatanya, melainkan justru menguatkannya. Pembaharuan yang dilakukannya tetap berpedoman pada prinsip: Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu mempertahankan tradisi lama yang masih baik (layak) dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Kiai Harits Dimyathi juga sangat konsen pada pedalaman kitab-ktab klasik, sehingga beliau dikenal pula sebagai kiai yang mampu menyusun beberapa kitab, yang kelak kitab tersebut menjadi literatur wajib santri Tremas. Diantara kitab yang berhasil disusun, antara lain : Sarh Jawahirul Maknun, Khulashah Tarikh Tasri’ Islam, Tasrifan/ Shorof Attarmasi, Tarikh Daulah Ummawiyah, Tarikh Daulah Abbasiyyah, Qowaidul Kitabah, Qowaidul Fiqhiyyah, Khulashoh Khulafa’ur Rosyidin, dan banyak lagi kitab-kitab yang lainya.

Kepiawaian Kiai Harits Dimyathi dalam menulis dan menyusun beberapa kitab, diakui mewarisi kakak sulung ayahnya, yaitu Syekh Mahfud Attarmasi. Walaupun produktifitas menulisnya dalam skala kecil.

Kiai Harits Dimyathi memiliki spesifikasi bidang sejarah Islam. Saat mengajar tarikh, Kiai Harits Dimyathi seakan sebagai saksi hidup sejarah itu sendiri. Kiai Harits mampu bercerita cukup emosional dan membawa pendengar terlibat dalam kisah yang diceritakanya.

Kedalaman pengetahuanya tentang Sirah Nabawiyah hingga sejarah kebangkitan Islam abad pertengahan, memberi sinyal kepada para santri betapa sejarah memberi peranan penting dalam diri setiap orang, sekaligus pondasi kuat pembentukan jatidiri.

Kegemaran dan ketekunan Kiai Harits Dimyathi dalam belajar ternyata tidak luntur hingga sudah memiliki cucu. Disela kesibukannya dalam membina santri, Kiai Harits tetap memberi porsi banyak untuk membaca kitab, buku-buku, majalah, atau bacaan lain yang memberinya wawasan cakrawala pengetahuan yang cukup luas hingga melampaui orang kebanyakan di sekitarnya. Demikian seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Muhammad, dalam bukunya Bunga Rampai dari Tremas, halaman 62.

Kiai Harits Dimyathi menikah dengan salah satu putri Hadratusyyekh Hasyim Asy’ari Tebuireng, yang bernama Fathimah. Namun mahligai rumah tangganya bersama putri pendiri NU itu tidak berlangsung lama. Kemudian, Kiai Harits menikah kembali dengan Nyai Hadiyah yang berasal dari Jatimalang, Arjosari, Pacitan. Dari pernikahan itu, Kiai Harits dikarunia empat orang putra-putri; Kiai Hammad Al Alim, Nyai Jihan Al Hanin, Kiai Luqman Al Hakim, dan Gus Mu’adz.

KH Harits Dimyathi termasuk Kiai yang amat sederhana,  memiliki kepribadian yang lemah lembut dan rendah hati. Keluasan ilmunya tercermin dari akhlak dan kharismanya. Meskipun kewibawaannya mengesankan pribadi yang tertutup, pendiam, dan sulit diajak humor.

Kiai Harits Dimyathi sangat memperhatikan kemaslahatan keluarga. Kasih sayangnya bukan hanya dirasakan di lingkungan keluarga saja, tetapi juga di tengah-tengah para santrinya. Dikala memberikan wejangan, Kiai Harits selalu mendorong santrinya agar senantiasa tekun belajar.

Sisi kehidupan Kiai Harits Dimyathi yang patut diteladani, yakni memiliki kebiasaan riyadhoh, yaitu membaca shalawat dari sehabis magrib hingga waktu isya’ menjelang. Kebiasaan ini tidak pernah ditinggalkannya hingga akhir hayatnya

Kiai Harits Dimyathi berpulang ke rahmatullah pada tahun 1995. Kiai Harits wafat saat sedang berada di kantor pesantren dan hendak mengawasi santrinya yang tengah melaksanakan imtihan (ujian) Madrasah Salafiyah. Wasiat terakhirnya yakni agar Pondok Tremas tetap selalu menjaga jatidirinya sebagai pesantren Salaf. Seperti ketika pesantren ini didirikan pertama kalinya oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M.

Kiai Harits dimakamkan di makam gunung Lembu Desa Tremas, bersama dengan para sesepuh Tremas lainya. Dan tiap hari makamnya selalu ramai diziarahi oleh para santri.

Komentar Anda